Pada suatu hari, Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanpa alasan yang sah menyita tanah-tanah Pieter Erberveld. Erberveld marah. Bersama Ateng Kartadria ia merencanakan pemberontakan. Pemberontakan itu akan dikobarkan pada malam tahun baru 1 Januari 1721.
Rencana Pieter dapat diketahui Belanda. Pieter, Ateng Kartadria, dan pengikut-pengikutnya ditangkap. Di hadapan majelis hakim Pieter membantah tuduhan memberontak. Namun majelis hakim menghukum Pieter dengan hukuman gantung kepala. Begitu juga terhadap Ateng Kartadria dan pengikut-pengikutnya.
Sebuah laporan resmi yang diterbitkan intelejen kolonial menyebutkan, Pieter Erberverld dengan dukungan dari kesultanan Banten (Raden Kartadirya) serta seorang pemuda Sumbawa bernama Layek, telah merencanakan pemberontakan besar-besaran terhadap penguasa Belanda di Batavia. Pieter dan pengikutnya berencana membunuh seluruh warga Belanda di Batavia.
Pada abad ke-17 dan 18, homoseksualitas merupakan dosa paling berat. Dianggap ‘dosa terhadap Tuhan’, yang ditindak dengan hukuman mati. Perzinahan, apalagi perbuatan serong, mendapat hukuman berat.
Ini dialami oleh seorang wanita Belanda, istri seorang guru, dikalungi besi dan kemudian ditahan dalam penjara wanita selama 12 tahun karena beberapa kali melakukan perselingkuhan.
Oey Tambahsia, yang dijuluki playboy Betawi, pada abad ke-19 juga tewas di tiang gantungan. Dia tidak pernah puas terhadap wanita, selalu mengejar wanita tidak peduli anak dan istri orang. Padahal, ia masih remaja. Termasuk melakukan pembunuhan terhadap sejumlah wanita dan pesaing bisnisnya.
Eksekusi hukuman gantung terakhir yang dilaksanakan di Stadhuisplein adalah terhadap seorang perampok bernama Tjoe Boen Tjiang, pada tahun 1896.
Justus van Maurik, yang berkunjung ke Batavia dan menyaksikan secara langsung eksekusi itu, menuliskan dalam jurnalnya Indrukken van een “Totok”, Indische Type en Schetsen bahwa pelaksanaan hukuman gantung atas Tjoe Boen Tjiang pada pukul 07:00 pagi.
Hukuman mati itu penuh sesak oleh masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari pribumi, Tionghoa, Arab, Eropa, orang Keling hingga Peranakan.
Tjoe Boen Tjiang, pemuda Tionghoa bersosok tinggi dan tampan yang dikenal juga dengan nama Impeh. Ia terbukti telah merampok dan membunuh dua orang perempuan dengan kejam. Namun anehnya, saat pelaksanaan eksekusi terhadap Tjoe Boen Tjiang yang paling banyak datang menyaksikan justru adalah kaum wanita. Rupanya mereka bersimpati kepada para wanita korban kekejaman Tjoe Boen Tjiang.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.