Penyair Umbu Landu Paranggi Meninggal karena Covid-19

Mohamad Chusna, Sindonews · Selasa 06 April 2021 15:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 244 2390271 penyair-umbu-landu-paranggi-meninggal-karena-covid-19-6w5Yda9hv7.jpg Umbu Landu Paranggi dan Cak Nun (Foto : Istimewa)

DENPASAR - Penyair legendaris Umbu Landu Paranggi wafat di Bali, Selasa (6/4/2021). Begawan sastra Indonesia itu terkonfirmasi meninggal akibat Covid-19.

"Meninggal (terkonfirmasi) positif Covid-19," kata Kasubag Humas Rumah Sakit Bali Mandara I Gusti Agung Putu Aditya Mahendra ketika dihubungi.

Dari laporan yang dia terima dari petugas rumah sakit, Aditya mengatakan almarhum sempat dirawat di ruang ICU dalam dua hari terakhir.

Namun, dia belum mengetahui kapan persisnya Umbu masuk ke rumah sakit. Begitu juga dengan diagnosa awal saat masuk rumah sakit.

Hingga kini, jenazah masih berada di kamar jenazah. "Petugas masih melakukan proses formalin," ujar Aditya.

Umbu meninggal dalam usia 77 tahun dinihari tadi. Berpulangnya mahaguru sastra nusantara itu meninggalkan duka mendalam bagi pegiat sastra tanah air.

Umbu lahir di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Dia dikenal sebagai "Presiden Malioboro" karena banyak bergiat di kawasan Malioboro, Yogyakarta itu pada dasawarsa 1970an bersama PSK (Persada Studi Klub) yang didirikannya dengan sekian banyak kawan dan muridnya, seperti Linus Suryadi AG, Iman Budi Santosa, Korrie Layun Rampan, Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, dan lainnya.

Baca Juga : Penyair Umbu Landu Paranggi, Gurunya Cak Nun Meninggal Dunia

Awalnya, pada tahun 1969, Umbu mengasuh rubrik sastra di mingguan Pelopor Yogya. Kantornya ada di Jalan Malioboro. Dia bersama Iman Budhi Santosa, Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarno Pragolopati, Suparno S. Adhy, Ipan Sugiyanto Sugito, Mugiyono Gitowarsono, kemudia mendirikan Persada Studi Klub (PSK).

Umbu pulang kampung ke Sumba pada tahun 1975. Tiga tahun kemudian dia menetap di Bali. Pada 1979, ia menjadi redaktur sastra di harian Bali Post dan menjadi guru bagi para sastrawan muda Bali. Beberapa muridnya di Bali antara lain, Putu Fajar Arcana, Cok Sawitri, Oka Rusmini hingga Raudal Tanjung Banua.

Alumnus jurusan Sosiatri, Fisipol UGM ini betah menetap dan banyak berkesenian di Bali hingga meninggal. Banyak pencapaian dan pengakuan atas sepak terjangnya sebagai penyair atau seniman. Antara lain Umbu mendapatkan Penghargaan Seni pada tahun 2019 dari Akademi Jakarta.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini