Analisis BMKG, Gempa M5,2 di Nias Akibat Aktivitas Tektonik

Antara, · Rabu 14 April 2021 21:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 14 608 2394804 analisis-bmkg-gempa-m5-2-di-nias-akibat-aktivitas-tektonik-FoXKWRrqk3.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa berkekuatan Magnitudo 5,5 pada Rabu (14 /4/2021) pukul 17.55.15 WIB di Nias, Sumatera Utara diketahui akibat aktivitas tektonik.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 0,14 lintang utara (LU) dan 96,65 bujur timur (BT) atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 133 km arah barat daya Kota Lahomi, Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara pada kedalaman 10 km.

"Dengan memerhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas tektonik di zona 'outer-rise'," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno di Jakarta, Rabu malam. 

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan turun ( normal fault ). Baca Juga: Breaking News: Gempa M 5,6 Guncang Nias Barat Sumut

Guncangan gempa bumi tersebut dirasakan di daerah Sirombu pada skala II Modified Mercalli Intensity (MMI) atau getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Baca Juga: Gempa Magnitudo 4,9 di Pelabuhan Ratu, Tak Ada Laporan Kerusakan

Hingga saat ini, belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut sehingga hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut tidak berpotensi tsunami. "Hingga hari Rabu, 14 April 2021 pukul 18.15 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock)," kata dia.

BMKG mengimbau kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kemudian, agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa, memeriksa dan memastikan bangunan tempat tinggal tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah, demikian Bambang Setiyo Prayitno.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini