Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pembelot Korut Lolos dari Kelaparan dan Perbudakan, Kini Bersaing di Pemilu Inggris

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 05 Mei 2021 |05:25 WIB
Kisah Pembelot Korut Lolos dari Kelaparan dan Perbudakan, Kini Bersaing di Pemilu Inggris
Pembelot Korea Utara Jihyun Park (Foto: BBC)
A
A
A

  • Pengemis anak

Timothy Cho, 33, dulu tinggal di jalanan Korea Utara sebagai anak tunawisma - yang dikenal sebagai kotjebi - selama kelaparan dahsyat melanda negara itu. Anak yatim piatu itu hidup di jalanan mencari makanan dan tempat berlindung sebelum membelot ke China pada tahun 2004.

"Saya terpisah dari orang tua saya sejak kecil. Mereka adalah guru dan ayah saya mengajar sejarah di sekolah. Tapi ayah merasa malu mengajar sejarah palsu sehingga mendapat masalah. Jadi, mereka harus melarikan diri dari desa, dan saya ditinggalkan sendirian, "kata Cho.

Banyak yang mati selama kelaparan dahsyat di Korea Utara pada 1990-an, dan Cho berjuang keras mencari kerabat untuk membantunya.

Setelah bertahun-tahun di jalan, dia pergi ke rumah neneknya untuk membantunya bertani, tetapi dia segera menyadari bahwa hanya ada sedikit harapan baginya - dia akan selalu dikenal sebagai anak seorang "pengkhianat".

"Saya termasuk dalam kelompok yang paling dibenci di Korea Utara karena ayah saya. Suatu kali saya memberi tahu guru dengan berlinang air mata bahwa meskipun ayah saya seorang pengkhianat, itu tidak berarti saya juga. Tapi mereka tidak mendengarkan,” ungkapnya.

Cho memutuskan untuk melarikan diri dari Korea Utara - keputusan yang sangat menyakitkan tanpa ada prospek untuk kembali. Remaja laki-laki itu berhasil melintasi perbatasan China dan tidak tahu apa yang akan terjadi di depannya.

Saat mencoba melintasi perbatasan Mongolia, Cho ditangkap oleh polisi, dipulangkan ke Korea Utara dan dipenjarakan. Kondisi di penjara membuatnya mengalami trauma jangka panjang, hingga sekarang.

"Hal yang paling menakutkan adalah mendengar jeritan tahanan di penjara. Dipukul sampai mati lebih menakutkan daripada mati karena kelaparan. Trauma itu berlangsung begitu lama - bahkan setelah saya menetap di Inggris, saya sering terbangun di malam dan bertanya-tanya di mana saya berada. Saya merasa seperti saya bisa mendengar suara jeritan orang-orang yang dipukuli di sana,’ ujarnya.

Dia selamat dari penjara, dan berhasil kembali ke China, tetapi ditangkap untuk kedua kalinya.

Namun, media asing melaporkan kisah pengungsi Korea Utara yang menunggu pemulangan paksa - termasuk dirinya - dan pihak berwenang China diyakinkan untuk tidak mengirim mereka kembali ke Korea Utara.

"Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa, dan saya masih berpikir itu adalah mukjizat," tambahnya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement