Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pembelot Korut Lolos dari Kelaparan dan Perbudakan, Kini Bersaing di Pemilu Inggris

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 05 Mei 2021 |05:25 WIB
Kisah Pembelot Korut Lolos dari Kelaparan dan Perbudakan, Kini Bersaing di Pemilu Inggris
Pembelot Korea Utara Jihyun Park (Foto: BBC)
A
A
A

  • Terjun ke politik

Pada 2008, Cho diterima sebagai pengungsi di Inggris dan menemukan kehidupan baru.

Sama seperti Park, dia mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat baru. Menunggu pendaftaran sekolah, Cho bergabung dengan kelompok relawan yang membantu para tunawisma.

"Begitulah cara saya belajar bahasa Inggris untuk pertama kalinya, hidup dengan tunawisma yang berada dalam situasi yang sama seperti saya sebelumnya,” terangnya.

Kemudian dia mulai belajar politik dan memperoleh gelar master dalam Hubungan Internasional dan Keamanan di Universitas Liverpool. Setelah menyelesaikan gelar tersebut, ia terjun ke dunia politik sebagai asisten anggota Parlemen Inggris pada tahun 2018. Saat ini ia menjabat sebagai panitera untuk "All-Party Parliamentary Group on North Korea".

"Saat mempelajari politik dan struktur sosial, saya melihat rasa sakit di semenanjung Korea. Saya memahami faktor politik dan ideologis, seperti mengapa dibagi menjadi dua, mengapa Selatan menjadi negara demokratis, sedangkan Utara tetap menjadi negara komunis,” jelasnya.

Bekerja dalam politik, Cho terkagum oleh praktik politik Inggris yang meminta dukungan pemilih dengan mengunjungi tetangga dari pintu ke pintu. Tahun ini, Cho mulai meminta dukungan untuk dirinya sendiri, saat ia ditunjuk sebagai kandidat dari Partai Konservatif untuk kursi dewan di utara Inggris.

"Pepatah favorit saya adalah 'abdi masyarakat, pelayan orang-orang dalam masyarakat. Politikus lokal di Inggris adalah seorang pembawa pesan. Saya ingin pergi ke sana dan bekerja atas nama tetangga saya,” lanjutnya.

Terlepas dari hasil pemilihan ini, Cho berniat untuk terus bekerja membantu rakyat Korea Utara dengan cara apapun yang ia bisa. Cho ingin mengabdikan dirinya untuk membawa perdamaian ke semenanjung Korea, dan belajar politik adalah salah satu cara untuk mengembangkan kemampuannya guna mencapai tujuan itu.

"Saya tumbuh tanpa keluarga. Jadi, saya tumbuh tanpa mengetahui siapa saya. Saya pikir komunitas yang sehat dimulai dengan keluarga yang sehat, dan komunitas yang sehat membuat negara yang kuat," tambahnya.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement