Kiprah Hamas, Kelompok yang Kuasai Jalur Gaza dalam Perang Lawan Israel

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 15 Mei 2021 04:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 15 18 2410346 kiprah-hamas-kelompok-yang-kuasai-jalur-gaza-dalam-perang-lawan-israel-byVef4rdaK.jpg Foto: AFP

Setelah kesepakatan damai Oslo gagal, Presiden AS Bill Clinton berupaya menghidupkan kembali perdamaian melalui pertemuan di Camp David pada 2000 namun gagal setelah intifada atau pemberontakan kedua menyusul.

Hamas meraih kekuasaan dan pengaruh ketika Israel membungkam Otorita Palestina, yang dituduh mensponsori serangan-serangan mematikan.

Hamas lantas mengelola sejumlah klinik dan sekolah bagi warga Palestina yang merasa dikecewakan oleh korupnya Otoritas Palestina yang didominasi faksi Fatah.

Baca juga: Ini Bukti RI Tidak Pernah Akui Israel sebagai Sebuah Negara

Banyak warga Palestina menyambut gelombang serangan bunuh diri Hamas pada awal intifada kedua. Mereka memandang operasi "martir" sebagai pembalasan atas pendudukan Israel di Tepi Barat Gaza sebagai bagian dari negara mereka.

Pada Maret dan April 2004, pemimpin spiritual Hamas, Sheikh Ahmed Yassin dan penerusnya, Abdul Aziz al-Rantissi, dibunuh melalui serangan rudal Israel di Gaza.

Di internal Palestina, perseteruan antara Hamas dan Fatah merebak setelah pemimpin Fatah, Yasser Arafat, meninggal dunia pada November tahun tersebut.

Baca juga: Kicauan Kontroversial Gal Gadot tentang Konflik Israel dan Palestina

Pemimpin Fatah, Mahmoud Abbas menilai serangan roket Hamas kontraproduktif. Ketika Hamas menang telak dalam pemilihan umum legislatif pada 2006, perseteruan itu semakin nyata. Hamas menolak terlibat dalam kesepakatan damai Palestina-Israel sebelumnya, menolak mengakui legitimasi Israel, dan menepis permintaan untuk mengakhiri aksi kekerasan.

Dokumen itu juga berulang kali menyerang orang-orang Yahudi sebagai sebuah bangsa, sehingga mendatangkan tuduhan bahwa gerakan Hamas anti-Semitik.

Pada 2017, Hamas merilis dokumen kebijakan terbaru yang menghaluskan sejumlah sikap terdahulu dan menggunakan bahasa yang terukur.

Dalam dokumen itu, Hamas tetap tidak mengakui Israel, namun menerima secara formal pembentukan negara Palestina secara interim di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur yang dikenal sebagai garis sebelum 1967.

Dokumen itu pun menekankan bahwa perjuangan Hamas bukan terhadap Yahudi, tapi terhadap "agresor Zionis yang melakukan pendudukan".

Setelah Hamas mendepak pasukan loyalis Fatah dari Gaza pada 2007, Israel memperketat blokade pada teritori tersebut. Serangan roket Palestina dan gempuran udara Israel berlanjut.

Israel menuding Hamas bertanggung jawab atas semua serangan yang dilesatkan dari Jalur Gaza. Israel lantas melancarkan tiga operasi militer besar di Gaza yang diikuti eskalasi pertempuran lintas perbatasan.

Pada Desember 2008, militer Israel menggelar operasi militer 'Cast Lead' dengan dalih menghentikan serangan-serangan roket Palestina. Lebih dari 1.300 orang Palestina dan 13 orang Israel tewas dalam serangan 22 hari itu.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini