Share

Terkait Kasus Perceraian, Hampir 80.000 Anak di China Diperkirakan Diculik dan Disembunyikan

Susi Susanti, Koran SI · Senin 24 Mei 2021 11:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 24 18 2414561 terkait-kasus-perceraian-hampir-80-000-anak-di-china-diperkirakan-diculik-dan-disembunyikan-RKPxPDUNlT.jpg 8.000 anak diculik dan disembunyikan di China terkait kasus perceraian (Foto: CNN)

CHINA โ€“ Hampir 80.000 anak di China diperkirakan diculik dan disembunyikan. Menurut laporan yang dibuat oleh Zhang Jing, wakil direktur firma hukum Beijing dan profesor di Universitas Ilmu Politik dan Hukum China, penculikan itu kebanyakan melibatkan anak laki-laki di bawah enam tahun.

Untuk mencapai perkiraan mereka, Zhang Jing dan tim risetnya menganalisis 749 kasus litigasi yang melibatkan hak asuh dan kunjungan dari basis data hukum nasional, mulai tahun 2007 dan 2020 - kemudian menerapkan proporsi kasus "penculikan" ke jumlah perceraian yang terdaftar pada 2019.

Meskipun perkiraan 80.000 didasarkan pada angka perceraian 2019, para ahli hukum mengatakan itu mencerminkan tren yang konsisten terlihat setiap tahun - dan angka sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, karena banyak kasus mungkin tidak tersedia untuk umum atau diselesaikan di luar pengadilan.

Sebuah undang-undang baru bertujuan untuk mengakhiri praktik ini. Pada Oktober tahun lalu, badan legislatif negara itu mengesahkan amandemen undang-undang perlindungan anak dengan lusinan pasal baru - salah satunya menyatakan ilegal bagi orang tua untuk "merampas dan bersembunyi" anak-anak mereka untuk memenangkan pertempuran hak asuh.

Para ahli hukum keluarga dan penculikan anak mengatakan amandemen, yang mulai berlaku pada 1 Juni, dipuji oleh beberapa orang sebagai langkah penting dalam melindungi anak dan ibu. Tetapi bertahun-tahun peraturan longgar dan pendekatan lepas tangan oleh otoritas China telah menabur keraguan apakah undang-undang baru akan mengubah apa pun.

(Baca juga: Presiden Irak: Uang Hasil Kekayaan Minyak Sebesar Rp2.154 Triliun Dicuri Sejak Invasi AS)

Meskipun detail dan keadaan kasus penculikan berbeda, seringkali hasilnya sama. Menurut aktivis seperti Dai dan Zhang Jing, yang telah menangani kasus-kasus seperti itu, penculik memindahkan dan menyembunyikan anak-anak tersebut, biasanya dengan bantuan orang tua atau anggota keluarga mereka. Orang tua lainnya, biasanya sang ibu, dilarang melihat anaknya. Bakan mereka kerap tidak tahu di mana keberadaan anak mereka. Dalam beberapa kasus, penculik terus menyembunyikan anak tersebut lama setelah memenangkan hak asuh.

Pertarungan hukum bisa jadi sia-sia - kecuali anak tersebut dianiaya atau dalam bahaya, mustahil untuk memenangkan kembali hak asuh, kata para aktivis dan ibu. Orang tua lainnya dapat diberikan hak kunjungan - tetapi ini juga sulit untuk ditegakkan. Seringkali, tidak ada dampak buruk bagi para penculik.

Sepeti dikutip Xinhua, Chen Haiyi, kepala divisi remaja dan keluarga dari Pengadilan Rakyat Menengah Guangzhou di Provinsi Guangdong, dalam laporan tahun 2019, mengatakan "setidaknya setengah" dari perselisihan perceraian terkait hak asuh anak, orang tua "menyembunyikan anak-anak karena berbagai alasanโ€.

(Baca juga: Studi: Vaksin Covid-19 Pfizer dan AstraZeneca Efektif Lawan Varian India)

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Inti dari masalahnya adalah sistem hukum China, yang cenderung berpihak pada penculik dan hanya menyisakan sedikit jalan untuk membantu pasangan mereka.

Jeremy D. Morley, yang mengepalai firma hukum keluarga internasional di New York, dan telah mempelajari fenomena penculikan anak di seluruh dunia secara ekstensif menjelaskan di China, hak asuh bersama jarang terjadi - pemikiran umum adalah bahwa "setelah perpisahan keluarga, anak-anak harus pergi dengan satu orang tua daripada dengan kedua orang tuaโ€.

"Tradisi orang tua mengambil anak dari orang tua lainnya, ketika ada perpisahan orang tua, adalah beberapa

"Tradisi orang tua mengambil anak dari orang tua lainnya, ketika ada perpisahan orang tua, adalah sesuatu yang sudah ada sejak lama," kata Morley.

"Sangat sulit untuk menarik perhatian pengadilan dan polisi dan otoritas negara lainnya dalam memperbaiki masalah tersebut,โ€ terangnya.

Dia menambahkan mentalitas lepas tangan, hak asuh tunggal ini bukan hal baru. Hal ini "secara historis merupakan pendekatan yang telah dilakukan di seluruh Asia," yang sebelumnya terlihat di negara-negara seperti Korea Selatan.

Tapi di China, kebijakan itu tidak selalu sama. Undang-undang perkawinan China menyatakan bahwa setelah perceraian, kedua orang tua "masih memiliki hak dan kewajiban untuk membesarkan dan mendidik anak-anak mereka", dan bahwa orang tua yang kehilangan hak asuh masih berhak atas hak kunjungan kecuali jika merugikan anak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini