Penduduk sekitar meyakini Alas Purwa terdapat istana jin tempat seluruh jin yang ada di Pulau Jawa berkumpul. Setiap tahun khususnya di bulan Sura banyak warga Bali dan Banyuwangi berkunjung ke tempat ini untuk bersemedi, mencari wangsit atau sekadar lelaku gaib.
Adanya tempat yang diyakini bisa memberikan wangsit ini maka Ki Manteb dengan ditemani 3 orang saudara dan temannya yaitu Suluh Darmadi, Jumadi dan Padmo menuju Alas Purwa. Di tempat ini Ki Manteb bertapa memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar mendapatkan piandel.
Pada hari kelima pertapaannya beliau bermimpi bertemu dengan Bung Karno. Dalam mimpi itu Bung Karno memberi cempala (kayu pemukul kothak wayang), dan berkata ‘nyoh, muliha’ (ini.., pulanglah). Setelah terbangun, Ki Manteb kemudian segera mencari kayu di sekitar tempat itu untuk dijadikan cempala.
Tampaknya konsistensi dirinya yang seorang nasionalis sudah mengakar dan terbawa dalam kehidupannya. Sebagai salah satu buktinya yaitu saat Manteb bersemedi ini suara Bung Karnolah yang terdengar dan membuat Manteb terbangun dari semedi. Bung Karno tetap menjadi idola dan dianggap sebagai seorang nasionalis sejati.
Baca Juga : Ki Manteb Soedharsono Meninggal Dunia karena Kelelahan
Oleh karenanya suara Bung Karno dianggap sebagai sebuah petunjuk yang harus dilaksanakan. Setelah mendapatkan kayu, segera dibawanya pulang untuk dibuat cempala. Beliau kemudian memutuskan menghentikan semadinya dan segera pulang. Sesampai di rumah, di samping membuat cempala, Ki Manteb segera mencipta sanggit Banjaran Bima.
Satu bulan kemudian Ki Manteb pergi ke Jakarta untuk menemui Sudarko Prawiroyudo dan akan menyatakan kesanggupannya mementaskan lakon Banjaran Bima setiap sebulan sekali selama setahun.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.