Share

Tentara Bayaran Wagner, Misteri Tablet dan 'Daftar Belanja' Militer Ungkap Keterlibatan Pasukan Rahasia Rusia

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 12 Agustus 2021 06:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 12 18 2454345 tentara-bayaran-wagner-misteri-tablet-dan-daftar-belanja-militer-ungkap-keterlibatan-pasukan-rahasia-rusia-S6wsLmrYxd.jpg Tneara bayaran Wagner di Liibya (Foto: BBC)

RUSIA - Wagner adalah kelompok tentara bayaran dari Rusia yang operasinya telah menjangkau dunia, dari pertempuran garis depan di Suriah, Libya, hingga menjaga tambang berlian di Afrika Tengah.

Kelompok itu terkenal dengan kerahasiaanya sehingga sulit untuk diteliti.

BBC memperoleh akses eksklusif ke tablet elektronik yang ditinggalkan di medan perang di Libya oleh seorang tentara Wagner. Tablet ini diklaim memberikan informasi yang belum pernah terungkap sebelumnya tentang cara kerja tentara ini.

Selain tablet, sebuah "daftar belanja" peralatan militer mutakhir juga mengungkapkan bahwa Wagner mungkin didukung oleh kekuatan tingkat tertinggi, meskipun pemerintah Rusia secara konsisten menyangkal terkait dengan organisasi itu.

Tentara bayaran Rusia,Wagner, disebut ikut bertempur di sana untuk mendukung jenderal pemberontak Libya Khalifa Haftar, melawan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung PBB.

(Baca juga: Tak Becus Urus Covid-19, PM Thailand Dituntut Mundur, Demonstrasi Bentrok dengan Polisi)

Tablet itu diyakini tertinggal ketika para prajurit Rusia itu mundur pada musim semi 2020.

Telah lama beredar laporan bahwa Wagner beroperasi di Libya. Seperti dalam sebuah video yang direkam pasukan GNA pada April 2020 lalu dan dibagikan kepada BBC, diyakini menunjukkan para pejuang Wagner.

Tapi, BBC hanya memiliki sedikit informasi langsung karena kelompok Wagner adalah salah satu organisasi paling rahasia di Rusia.

Secara resmi, organisasi itu tidak ada. Tentara bayaran bertentangan dengan hukum Rusia dan internasional.

(Baca juga: WHO Akan Uji 3 Obat untuk Pengobatan Covid-19)

Setelah melalui berbagai proses verifikasi, tablet tersebut dibawa ke London.

BBC segera memasukkannya ke dalam kantong pemblokir sinyal, sehingga tidak dapat dilacak atau dihapus dari jarak jauh.

Ternyata, informasi di dalamnya mudah diakses. BBC menemukan lusinan dokumen - mulai dari ranjau manual, alat peledak improvisasi (IED), hingga rekaman drone pengintai.

Sejumlah buku juga telah diunggah - termasuk Mein Kampf, A Game of Thrones, dan panduan membuat anggur.

Tapi yang menarik adalah temuan peta militer garis depan yang semua ditandai dalam bahasa Rusia.

Titik-titik berwarna dalam peta berkerumun di pinggiran Ain Zara, Tripoli selatan, tempat pasukan Wagner bertempur dengan GNA antara Februari dan akhir Mei 2020.

Jika sekilas melihat tablet itu, sulit untuk mengidentifikasi pemilikinya, tapi jika mengamati peta itu lebih dekat, terdapat kata-kata yang ditandai di beberapa titik lokasi merah.

Menurut seorang rekan BBC, Ilya - yang berbasis di Moskow dan telah menyelidiki Wagner selama empat tahun terakhir - mengungkapkan bahwa kata-kata itu adalah nama kode.

lIya melakukan referensi silang nama kode itu dengan basis data pejuang Wagner yang dibuat oleh sukarelawan Ukraina, dan laporan PBB yang bocor berisi daftar pejuang Wagner di Libya.

Salah satu pejuang - berlabel 'Metla' di tablet – diyakini adalah seorang Rusia berusia 36 tahun bernama Fedor Metelkin dari Kaukasus Utara.

Nomor pribadi Fedor Metelkin yang dipublikasikan di pusat data Ukraina, di bawah 3.000.

Artinya, Fedor telah bergabung dengan Wagner cukup lama - lima atau enam tahun lalu - ketika berperang di Ukraina timur untuk mendukung separatis yang didukung Rusia.

Dari pemahaman kami, biasanya para pejuang yang sama berpindah dari satu zona konflik asing ke zona konflik lainnya.

Tablet sekarang berada di lokasi yang aman

Tablet itu tidak memberikan banyak petunjuk tentang identitas atau latar belakang tentara bayaran, tetapi BBC memperoleh akses langka ke dua mantan pejuang Wagner - dengan syarat anonim.

Mereka mengkonfirmasi bahwa banyak dari tentara Wagner yang memulai di Ukraina lalu pergi ke Libya yang kaya minyak.

Seseorang mengatakan kepada BBC bahwa ada sebanyak 1.000 tentara Wagner di Libya dari September 2019 hingga Juli 2020.

Para mantan pasukan itu menjelaskan bahwa orang-orang tersebut tidak direkrut oleh organisasi bernama Wagner, melainkan melamar kontrak jangka pendek - misalnya sebagai pembor minyak atau personel keamanan - dengan banyak perusahaan cangkang.

Mereka menjalani tes fisik dan pemeriksaan keamanan latar belakang sebelum pindah ke tempat pelatihan tidak resmi Wagner di dekat Krasnoda, Rusia selatan, yang berada di sebelah pangkalan militer Rusia.

Mereka kemudian dikirim ke luar negeri, dengan doktrin bahwa jika mereka terbunuh, Wagner mungkin tidak dapat memulangkan tubuh mereka.

Seorang mantan pejuang menekankan bahwa unsur finansial atau bayaran menjadi motivasi.

Mereka dapat menghasilkan hingga 10 kali gaji rata-rata dengan mendaftar ke Wagner, salah satu mantan pejuang menggambarkan mantan rekan-rekannya sebagai "Viking modern".

"Setiap kali ada konflik bersenjata di suatu tempat, tentara Wagner membicarakannya. Kita bisa pergi ke yang ini dan menjadi milik kita.' Karena setiap kontrak dan setiap negara adalah uang. Jika Anda tidak memiliki kontrak, Anda duduk di sana sebagai cadangan tanpa uang,” terangnya.

Dia mengatakan bahwa banyak tentara Wagner - termasuk dirinya sendiri - memiliki catatan kriminal, sehingga sulit untuk bergabung dengan tentara reguler.

Mantan pejuang lainnya mengatakan, organisasi itu tidak mengeluarkan kode etik apa pun untuk operasinya.

Di desa Espiaa Libya - yang ditandai pada peta tablet sebagai posisi Wagner - kami bertemu dengan seorang pria yang mengatakan tiga anggota keluarganya dibunuh oleh pria yang berbicara bahasa Rusia.

Pembunuhan itu sedang diselidiki sebagai kejahatan perang, menurut jaksa militer Libya Mohammed Gharouda, yang bekerja untuk kementerian pertahanan Libya.

Desa ini berjarak 45 kilometer selatan Tripoli, dan ketika kami mengunjunginya pada bulan April tahun ini, pria tersebut - yang tidak kami sebutkan namanya - mengingat apa yang terjadi pada sore hari tanggal 23 September 2019.

Dia mengatakan bertemu dengan kelompok bersenjata di jalan, yang mulai menembak ke udara.

Dia dan kerabatnya digeledah, dan kemudian dibawa ke Qasr bin Ghashir, sekitar 20 menit berkendara.

Menurut GNA, Qasr bin Ghashir adalah basis Wagner pada saat itu.

"Salah satu dari mereka mengeluarkan senjatanya. Saya tahu dia akan menembak. Ketika dia mulai menembak, saya jatuh ke samping dan pura-pura mati,” ujarnya.

Salah satu saudaranya juga selamat.

Pria itu mengatakan melihat para penculiknya.

Ketika kami menunjukkan kepadanya beberapa pejuang Wagner yang difoto di Qasr bin Ghashir, dia mengenali satu di antaranya, yaitu Vladimir Andanov.

Dalam sebuah foto tak bertanggal yang diunggah tentara GNA, Andanov terlihat berjalan di sekitar Qasr bin Ghashir, beberapa jam setelah pembunuhan.

Andanov diduga terlibat dalam pembunuhan di luar hukum terhadap tawanan perang selama konflik di Ukraina timur.

Aktivis Ukraina telah mengidentifikasi lokasi terbaru Andanov di Afrika Utara.

Tetapi beberapa orang yang mengaku sebagai temannya membantah di media sosial bahwa Andanov pergi ke Libya bersama Wagner dan mengeklaim dia di satu rumah di Rusia.

BBC juga telah mengumpulkan kesaksian pembunuhan sipil lainnya dikaitkan dengan kelompok Wagner di Libya.

Bukti menunjukkan sekitar selusin warga sipil mungkin telah dibunuh oleh pejuang Wagner selama serangan Tripoli.

Seorang pejuang GNA, Mohammed al Kahasy, juga memberi tahu kami bahwa empat pria yang bertempur bersamanya telah hilang sejak mereka dicegat pada Desember 2019.

Di samping titik merah pada peta tablet, terdapat titik hitam yang menunjukkan peninggalan mematikan lain dari kehadiran tentara Wagner di Libya.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan titik ini adalah posisi ranjau yang dipasang, seperti jenis MON-50 atau OZM.

Ada juga posisi yang ditandai sebagai "distrik ranjau", "ranjau yang dikendalikan dari jarak jauh" atau "terbentang" - yang kami pahami sebagai jebakan.

Seperti titik merah, beberapa titik hitam juga diberi label dengan nama kode, menunjukkan bahwa mereka mungkin mengendalikan posisi ranjau tertentu.

Kata Metla - nama kode Fedor Metelkin - muncul lagi dalam konteks ini.

Semua dari 35 posisi ranjau yang ditandai pada tablet berada di distrik perumahan Ain Zara.

Di tablet juga tersimpan ilustrasi ranjau MON-50 - dan dua perangkat lain asal Rusia, POM-2 dan PMN-2.

Menurut laporan Human Rights Watch 2020, senjata-senjata itu sebelumnya tidak pernah terlihat di Libya - di mana telah terjadi embargo senjata sejak 2011.

Jaksa militer Gharouda mengatakan otoritasnya telah menemukan banyak ranjau POM-2, dan berbahaya bagi warga sipil.

BBC telah mendengar kesaksian dari penduduk setempat tentang jangkauan ranjau yang disembunyikan di daerah pemukiman.

BBC juga telah menghubungi badan amal penjinak ranjau yang bekerja di Libya untuk memberi tahu posisi ranjau Wagner yang mungkin belum didokumentasikan secara resmi.

Ketika tablet itu mengungkap di mana dan bagaimana tentara Wagner beroperasi, dalam dokumen 10 halaman terpisah - "daftar belanja" senjata dan peralatan - memberi petunjuk tentang siapa yang mendanai organisasi tersebut.

Dokumen tersebut kemungkinan ditemukan saat pertempuran di selatan Tripoli dan diberikan kepada BBC oleh sumber keamanan intelijen Libya di Tripoli, yang telah menyelidiki keberadaan Wagner di Libya.

Dokumen itu tertanggal 19 Januari 2020, hari yang sama Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri konferensi di Berlin tentang proses perdamaian untuk Libya.

Kami telah meminta penasihat keamanan Chris Cobb-Smith untuk menganalisisnya untuk kami.

"Saya sangat meragukan bahwa setiap perusahaan militer swasta (PMC) lainnya - jika Wagner dapat disebut demikian - memiliki sesuatu yang dekat dengan dukungan yang tampaknya tersedia bagi mereka di sini,” ungkapnya.

Petunjuk tentang siapa yang bisa mendanai operasi itu muncul dalam dokumen kedua yang diberikan kepada kami.

Catatan - untuk pasukan Wagner di Mozambik, tertanggal November 2019, dan meminta penggantian peralatan yang rusak - ditujukan ke "OOO Evro Polis".

Evro Polis adalah perusahaan Rusia yang dilaporkan menjadi penerima kontrak untuk pengembangan ladang minyak dan gas di Suriah.

Banyak laporan pers mengaitkan Evro Polis dengan pengusaha St Petersburg, Yevgeny Prigozhin.

Prigozhin menyangkal memiliki hubungan dengan Evro Polis atau Wagner.

Tapi sebuah referensi mungkin menunjukkan Prigozhin dalam dokumen Libya.

Denis Korotkov, jurnalis Rusia yang telah menyelidiki kelompok Wagner selama beberapa tahun, mengatakan yakin yang dituju - "Direktur Jenderal" - mengacu pada pengusaha.

Pada kedua dokumen, di sebelah kata "Disetujui oleh" kami menemukan inisial D.U. Ini diyakini merujuk pada Dmitry Utkin.

Utkin, mantan penerjun payung di pasukan khusus Rusia, dilaporkan sebagai pendiri dan komandan utama kelompok Wagner.

Utkin sendiri sebelumnya dikenal sebagai "Wagner" karena dugaan ketertarikannya pada Nazi Jerman, yang mempromosikan musik komposer Richard Wagner.

Utkin diyakini memiliki nama kode "Ninth". Pada kedua dokumen, kami melihat angka '9' dan kata 'Sembilan'.

BBC telah mencoba menghubungi Dmitry Utkin tetapi tidak mendapat jawaban.

Menurut salah satu mantan pejuang Wagner yang berbicara dengan BBC, para tentara bayaran itu tidak membahas siapa yang mendanai organisasi tersebut.

Dalam sebuah pernyataan kepada BBC, Yevgeny Prigozhin dengan tegas menyatakan tidak memiliki hubungan dengan Evro Polis atau Wagner.

"Saya belum mendengar apa pun tentang pelanggaran hak asasi manusia di Libya oleh Rusia dan saya yakin ini adalah kebohongan mutlak," katanya.

"Saran saya kepada Anda adalah bekerja dengan fakta, bukan sentimen Russophobia Anda,” lanjutnya.

Sebelumnya, dia juga membantah mengenal Utkin.

Pada November 2018, jenderal pemberontak Libya Khalifa Haftar mengunjungi Moskow. Cuplikan itu menunjukkan wajah Prigozhin dalam pertemuan di kementerian pertahanan Rusia.

Pada Januari 2020, Putin ditanya apakah ada orang Rusia yang bertempur di Libya. Dia menjawab: "Jika ada warga Rusia, kembali, mereka tidak mewakili kepentingan negara Rusia, dan tidak menerima uang dari negara Rusia."

Ketika dihubungi untuk dimintai komentar, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, informasi tentang kehadiran pasukan Wagner di Libya sebagian besar didasarkan pada data yang dicurangi dan ditujukan untuk mendiskreditkan kebijakan Rusia di Libya.

"Rusia melakukan yang terbaik untuk mempromosikan gencatan senjata dan penyelesaian politik krisis di Libya."

Pasukan bayaran Wagner pertama kali muncul di Ukraina timur pada tahun 2014, bersama-sama dengan perusahaan militer swasta dan brigade sukarelawan, untuk mendukung separatis pro-Rusia.

Tetapi di Suriah pada tahun 2016 dengan operasinya melawan kelompok Negara Islam (ISIS), mereka menjadi lebih menonjol.

Sebuah gugatan hukum telah dilayangkan atas nama sebuah keluarga Suriah agar pejabat Rusia menyelidiki pasukan Wagner yang diyakini telah membunuh seorang pria Suriah pada tahun 2017.

Dua video yang diunggah ke internet menunjukkan pria itu disiksa dan kemudian dipenggal oleh seseorang yang mengejeknya dalam bahasa Rusia, mayatnya dicoret-coret dengan tulisan cyrillic.

Aktivitas Wagner di Republik Afrika Tengah (CAR) sedang berlangsung. Tiga tahun lalu, tiga jurnalis Rusia yang menyelidiki keterlibatan Wagner di negara itu ditembak mati.

Kelompok ini dilaporkan juga beroperasi di negara-negara Afrika lainnya, termasuk Republik Chad.

"Ini adalah kompetisi besar bagi Rusia. Mereka tidak hanya bersaing untuk Libya, mereka bersaing untuk pengambilan keputusan internasional di Afrika dan dunia," kata Rabia Bu Ras, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Libya.

Mengenai kehadiran Wagner di Libya, tablet dengan layar retak telah menjelaskan operasi rahasia kelompok di sana - mulai dari pergerakan pasukan hingga jebakan ranjau sipil.

Pemiliknya dan pasukan lain mungkin sudah lama pergi dari lokasi yang ditandai pada peta di layar tablet.

Tetapi BBC mendengar kesaksian sipil dan bukti sumber terbuka bahwa - meskipun ada gencatan senjata - para bayaran itu masih berada di Lybia dan terus mengacaukan upaya perdamaian.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini