Share

Iran Klaim Miliki 25 Kg Uranium yang Diperkaya 60 Persen

Ahmad Islamy Jamil, iNews · Jum'at 05 November 2021 18:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 05 18 2497409 iran-klaim-miliki-25-kg-uranium-yang-diperkaya-60-persen-rTJFXrLQK0.jpg Fasilitas pengayaan uranium di Iran (Foto: Reuters)

TEHERAN - Iran mengklaim pihaknya memiliki 25 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen.

“Sejauh ini, kita (Iran) telah memproduksi 25 kilogram 60 persen uranium,” ungkap laporan media setempat, mengutip Juru Bicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi.

Pada April lalu, pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Iran telah memulai proses pengayaan uranium hingga kemurnian fisil 60 persen di reaktor nuklir di atas tanah milik mereka di lawasan Natanz.

Laporan itu sekaligus membenarkan pernyataan yang disampaikan oleh pejabat Iran sebelumnya. Pada Juni, Iran menyatakan telah memproduksi 6,5 kg uranium diperkaya hingga 60 persen. Semakin tinggi tingkat kemurnian uranium yang diperkaya, akan semakin potensial digunakan sebagai senjata bom atom.

Baca juga: Badan Atom: Iran Punya 120 Kg Uranium yang Diperkaya 20%

Seperti diketahui, bom atom yang digunakan AS untuk membunuh penduduk Hiroshima semasa Perang Dunia II pada 1945, memiliki tingkat pengayaan hingga kemurnian 80 persen.

Sebelumnya, Presiden Iran Ebrahim Raisi bersumpah, negaranya bakal berjuang habis-habisan untuk membela kepentingan nasional dalam perundingan ulang nuklir antara Teheran dan enam kekuatan dunia yakni China, Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat (AS), plus Uni Eropa. Menurut dia, Iran tidak akan mundur dengan cara apa pun dalam proses negosiasi tersebut.

Baca juga: IAEA: Iran akan Perkaya Uranium Hingga 20%)

“Negosiasi yang kami pertimbangkan berorientasi pada hasil. Kami tidak akan meninggalkan meja perundingan. Tetapi kami tidak akan mundur dari kepentingan bangsa kami dengan cara apa pun,” kata Raisi seperti dikutip TV Pemerintah Iran, Kamis (4/11/2021).

Pada Rabu (3/11/2021), Iran dan enam kekuatan dunia mengumumkan dimulainya kembali pembicaraan nuklir Teheran di Wina, Austria, pada 29 November ini.

Juru runding nuklir utama Iran, Ali Bagheri Kani mengatakan, perundingan akhir bulan ini harus juga mencakup penghapusan sanksi yang melanggar hukum dan tidak manusiawi dari AS. Negosiasi nuklir yang dimulai pada April menjadi terhenti sejak terpilihnya Raisi, sosok ulama garis keras Iran, Juni lalu.

Sementara itu, AS menyatakan, pihaknya berharap perundingan ulang nanti dapat menunjukkan itikad baik Iran untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

Di bawah Kesepakatan Nuklir 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia, Teheran telah setuju untuk mengekang program pengayaan uraniumnya—yang dicurigai mengarah pada produksi senjata nuklir. Sebagai imbalannya kala itu, Iran bakal mendapat pencabutan sanksi internasional dari AS, PBB, dan Uni Eropa. Akan tetapi, mantan Presiden AS Donald Trump malah membawa Washington DC keluar dari kesepakatan itu pada 2018.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini