Mina sudah lima tahun berada di Indonesia. Ia pergi dari Afghanistan bersama tiga kakak dan ibunya karena tidak merasa aman.
Akibat konflik, Mina sekeluarga kehilangan tempat tinggal. Anak-anak perempuan tak diizinkan sekolah sehingga banyak yang buta huruf.
"Hidup kami dalam bahaya. Kami seperti tidak memiliki hak sebagai manusia."
Saat tiba di Pekanbaru, Riau, pada tahun 2015 lalu, ia tak bisa melakukan apapun, termasuk sekolah.
Maka tiap kali melihat anak-anak seusianya berangkat pagi-pagi ke sekolah, ada perasaan iri.
"Mengapa pengungsi tidak boleh sekolah?" tanya Mina.
Sementara keinginan untuk melanjutkan pendidikan, sangat besar.
Berkali-kali ia bilang ke ibunya kalau ia mau sekolah demi mengejar mimpi dan cita-cita.
"Tapi ibu saya tak bisa berbuat apa-apa," sebutnya.
Bazira Amini, ibu Mina, membenarkan cerita anaknya itu.