Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Anak Pengungsi dari Luar Negeri Sekolah di RI, Tak Bisa Bahasa Indonesia

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 20 November 2021 |11:30 WIB
Kisah Anak Pengungsi dari Luar Negeri Sekolah di RI, Tak Bisa Bahasa Indonesia
Kisah anak pengungsi masuk sekolah di Indonesia (Foto: BBC Indonesia)
A
A
A

"Bercanda, bermain, belajar bersama, saya merindukan itu semua,” ungkapnya.

Namun di sisi lain, ia sadar kekurangannya yakni tak bisa berbahasa Indonesia.

Karena itulah ia berlatih sendiri, dengan bantuan Google dan YouTube. Cukup banyak kosakata yang telah ia kuasai, tetapi masih tak percaya diri untuk berbicara dalam bahasa Indonesia.

"Susah, tidak bisa," katanya malu-malu dalam bahasa Indonesia dan tertawa.

Tiga tahun lamanya ia berdiam diri di rumah lantaran tak bisa sekolah.

Hingga pada 2019 — dengan bantuan IOM Indonesia — Mina bersama beberapa anak pengungsi lainnya untuk pertama kali, bisa masuk sekolah formal di Indonesia.

Di SD Negeri 56 Pekanbaru, Mina ditempatkan di kelas 5.

Dia masih ingat hari itu. Bertemu wajah-wajah baru yang berbeda dengannya. "Kaget," katanya.

Gara-gara belum fasih berbahasa Indonesia, ia pun bingung bagaimana berkomunikasi dengan guru dan teman-teman kelasnya. Termasuk saat belajar.

Itu mengapa, Mina lebih suka pelajaran matematika, seni, dan sains. Sebab tiga pelajaran itu tak perlu banyak penjelasan panjang seperti sejarah atau pendidikan kewarganegaraan.

Untuk kesenian, Mina bisa dibilang jago menggambar. Salah satu karya Mina menggambarkan seorang perempuan Afghanistan bergaun hijau dan berkerudung merah sedang menari.

Pertengahan tahun 2021, ia menyelesaikan pendidikan SD. Sebuah sertifikat pendidikan diberikan sebagai surat keterangan pernah belajar di sekolah.

Kini ia duduk di kelas 1 SMP Negeri 25 Pekanbaru. Cita-citanya bisa melanjutkan pendidikan sampai ke universitas dan menjadi progammer.

"Lulus kuliah dan mendapat pekerjaan di negara ketiga. Sehingga saya bisa mengabdi untuk masyarakat. Saya harap negara ketiga mendengar suara kami di sini," harap Mina.

Wali kelas Mina, Yenni Siswanti, tak punya cara khusus dalam menerangkan mata pelajaran kepada Mina. Hanya saja, usai jam pelajaran, ia kerap mengajaknya berdiskusi dan bertanya apakah ada kesulitan memahami pelajaran.

"Saya tahu dia agak bingung, tapi dia berusaha memahami," ujar Yenni.

Hal pertama yang ia pikirkan kala itu, "Bagaimana nanti komunikasinya?"

Tapi begitu tahu Mina sedikit mengerti Bahasa Indonesia, ia sedikit lega.

Satu hal yang selalu ia wanti-wanti pada anak didiknya itu agar bertanya kalau tidak mengerti pelajaran yang diajar. Sebab ia tahu betul, Mina belum menguasai bahasa Indonesia.

Adapun Kepala Sekolah SMP Negeri 25 Pekanbaru, Asbullah, berharap pemerintah memberikan tanda kelulusan berupa ijazah kepada anak-anak pengungsi.

"Kalau bisa disamakan. Mau dari negara manapun, ijazah itu kan pasti berlaku. Itu yang kita harapkan ke depan."

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement