Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Anak Pengungsi dari Luar Negeri Sekolah di RI, Tak Bisa Bahasa Indonesia

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 20 November 2021 |11:30 WIB
Kisah Anak Pengungsi dari Luar Negeri Sekolah di RI, Tak Bisa Bahasa Indonesia
Kisah anak pengungsi masuk sekolah di Indonesia (Foto: BBC Indonesia)
A
A
A

"Saya cerita kepada orang tua. Saya mau sekolah di sini, punya banyak teman, belajar dan bisa bahasa Indonesia."

Sekitar satu hingga dua tahun, Elyas tak bisa berbuat apa-apa. Tetapi waktu Elyas mengutarakan ingin sekolah, Ahmad Muhammad Ibrahim langsung setuju.

"Saya berpikir kalau dia seperti saya, itu artinya masalah. Karena itu dia harus punya masa depan. Makanya saya bilang ke dia, 'Elyas kamu harus pergi sekolah'," ucap pria 43 tahun itu.

Dia kemudian mendatangi beberapa sekolah. Satu sekolah yang dekat dengan rumah, ia sambangi berkali-kali supaya membolehkan anak sulungnya itu belajar di sana.

Tapi ditolak karena bukan warga negara Indonesia.

"Saya marah dan mencari pihak berwenang di sekolah itu. Orang itu tetap katakan, tidak bisa karena saya bukan warga negara Indonesia."

Sekolah kedua, ia datangi dan memohon agar dibantu. Ia beralasan "tidak ingin anaknya seperti dia. Tidak bisa baca-tulis'," katanya mengeluh.

Karena iba, Ibrahim diarahkan agar menemui Dinas Pendidikan Riau kalau ingin anaknya diizinkan masuk sekolah formal.

Kira-kira tiga sampai empat kali, Ibrahim bolak-balik ke Dinas Pendidikan Riau, bicara panjang lebar tapi lagi-lagi ditolak dengan alasan tidak ada kartu identitas.

"Saya bilang, 'tolong saya, please...'" katanya memohon.

Esoknya, ia kembali datang. Membujuk. Dan akhirnya diterima dengan syarat Elyas harus melampirkan akta kelahiran.

Bapak tiga anak ini buru-buru minta kerabatnya di Pakistan mengirim surat kelahiran Elyas ke Indonesia.

Pada tahun 2016, Elyas diterima masuk kelas 1 SD Negeri 190 Pekanbaru.

Akan tetapi satu masalah belum terpecahkan, bagaimana membuat Elyas lancar berbahasa Indonesia.

Di bulan pertama sekolah, bocah laki-laki itu kelihatan frustasi.

"Dia marah-marah kalau pulang ke rumah dari sekolah. Bulan kedua, bisa sedikit-sedikit bahasa Indonesia, dia senang. Teman-temannya mengajak main dan ngobrol dengan bahasa Indonesia."

"Alhamdulilah, sekarang dia sudah lancar," ujar Ibrahim.

Elyas, yang kini duduk di kelas 6, bercerita Matematika dan Bahasa Indonesia adalah dua mata pelajaran yang paling dia sukai.

Ditanya mengapa suka pelajaran Bahasa Indonesia, ia berkata karena banyak cerita bagus di dalamnya.

Muhammad Nabil, teman sekelas Elyas menyebutnya sebagai anak yang jahil dan sesekali bikin rusuh. Di sekolah mereka biasa bermain sepak bola atau petak umpet.

"Suka jahil kalau sedang belajar. Tapi baik."

Dalam beberapa bulan lagi, ia akan tamat sekolah dasar. Keinginannya dan juga mimpi sang ayah, bisa melanjutkan pendidikan sampai ke universitas dan bekerja.

"Cita-cita saya jadi dokter," katanya yakin.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement