Share

Kasus Antigen Bekas, Eks Manager Kimia Farma Dituntut 20 Tahun Penjara

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Rabu 15 Desember 2021 22:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 15 340 2517682 kasus-antigen-bekas-eks-manager-kimia-farma-dituntut-20-tahun-penjara-bLzSiBZhBP.jpg Sidang kasus antigen bekas (Foto: Wahyudi Aulia Siregar)

MEDAN - Mantan Bisnis Manager PT Kimia Farma Diagnostik Picandi Masco Jaya dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dengan hukuman penjara selama 20 tahun terkait kasus antigen bekas. Selain itu, dituntut pidana denda Rp5 miliar subsidair 6 bulan kurungan.

Sidang tuntutan terhadap Picandi digelar di Pengadilan Negeri Lubukpakam, Rabu (15/12/2021). Picandi dituntut hukuman dalam perkara dugaan penggunaan alat swab tes bekas pakai pada layanan swab antigen yang dikelola PT Kimia Farma Diagnostik di Bandara Kualanamu, Deliserdang Sumatera Utara. Lewat praktik itu, ia berhasil mendulang keuntungan mencapai Rp2,23 miliar.

"Terdakwa Picandi dianggap bersalah melakukan perbuatan sebagaimana dalam Pasal 196 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Jo Pasal 55 KUHP Jo Pasal 65 KUHP dan Kedua Pasal 3 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Yos Arnold Tarigan.

Baca Juga: Pakai Surat Antigen Palsu, 2 Sopir Travel Ditangkap Polisi

Selain Picandi, empat terdakwa lain juga telah menjalani sidang tuntutan dalam perkara tersebut. Keempat terdakwa itu adalah anak buah Picandi di Kimia Farma Diagnostik.

Mereka adalah Marzuki dan Renaldo dituntut masing-masing 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsidair 6 bulan kurungan. Kemudian, Sepipa Razi dan Depi Jaya masing-masing 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Dalam surat dakwaan, Picandi disebut menyalahgunakan kekuasaan membuat alat tes antigen bekas di Bandara Kualanamu. Ia melakukannya sejak 18 Desember 2020 sampai dengan 27 April 2021.

Picandi memerintahkan beberapa anak buahnya membuka pelayanan swab antigen untuk masyarakat memakai alat swab dakron dan tabung antigen yang telah digunakan atau didaur ulang.

Baca Juga: Kasus Pemalsuan Alat Tes Antigen, Satgas Covid-19: Ingat Sekarang Kita Sedang Krisis!

Atas tindakannya itu, Picandi ditaksir mendapat keuntungan sebesar Rp2,23 miliar. Untuk menyembunyikan asal usul uang tersebut, ia menempatkan uang miliar rupiah tersebut ke sejumlah rekening bank. 

Picandi dan anak buahnya sebelumnya ditangkap oleh tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut dalam sebuah penggerebekkan di lokasi layanan Rapid Test Antigen di Lantai Mezzanine Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, Selasa, 27 April 2021 lalu.

Penggerebekan itu dilakukan terkait penggunaan alat rapid test bekas yang digunakan pada layanan tersebut setelah banyaknya para calon penumpang yang mengaku dinyatakan positif Covid-19 di Bandara Kualanamu dalam kurun waktu sepekan sebelum penggerebekkan.

Dalam menjalankan praktik ilegal itu, Picandi dan anak buahnya mendaur ulang alat swab test antigen untuk kembali digunakan kepada para pengguna layanan di Bandara Kualanamu. Proses pendaur ulangan alat tersebut dilakukan di laboratorium Kimia Farma di Medan.

Untuk mengelabui pendataan di sistem perusahaan, Picandi dan anak buahnya merekayasa pelaporan penggunaan alat swab antigen di sistem mereka. Hasil keuntungan dari layanan rapid test menggunakan alat bekas pakai itu tidak dicatatkan dan digunakan untuk kepentingan Picandi dan anak buahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini