Share

Terpidana Mati Tuntut Dibunuh Regu Tembak Daripada Suntikan Mati

Susi Susanti, Okezone · Selasa 11 Januari 2022 13:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 11 18 2530450 terpidana-mati-tuntut-dibunuh-regu-tembak-daripada-suntikan-mati-gHIJWzYS2v.jpg Hukuman mati (Foto: AP)

OKLAHOMA - Dua terpidana mati di negara bagian Oklahoma, Amerika Serikat (AS) mengajukan petisi kepada hakim untuk mengizinkan regu tembak sebagai alternatif untuk suntikan mati. Mereka beralasan regu tembak akan lebih cepat mematikan dan memiliki lebih sedikit ruang untuk kesalahan daripada model eksekusi saat ini.

Donald Anthony Grant, yang membunuh dua orang selama perampokan pada 2001, dan Gilbert Ray Postelle, yang membunuh empat orang dalam penembakan pada 2005 saat mabuk metamfetamin, telah mengajukan banding ke Hakim Distrik AS Stephen Friot untuk menunda eksekusi mereka sampai pengadilan dapat menentukan apakah suntikan mematikan adalah bentuk konstitusional membunuh terpidana mati.

Baca juga: Jepang Eksekusi Mati 3 Terpidana

Menurut AP, persidangan atas masalah ini akan berlangsung pada 28 Februari mendatang. Namun, Grant dan Postelle akan dieksekusi berminggu-minggu sebelumnya pada 27 Januari dan 17 Februari. Permohonan grasi keduanya diketahui ditolak pada tahun lalu.

Pengacara Jim Stronski mengatakan kepada hakim bahwa sementara regu tembak "mungkin mengerikan untuk dilihat, kita semua setuju itu akan lebih cepat."

Hakim Friot mengatakan banyak hal akan dipertimbangkan dan keputusan akan dibuat pada akhir minggu.

Baca juga: Terpidana Mati Ini Minta Lele Goreng Sebagai Permintaan Terakhir

Sementara itu, para ahli yang terlibat dengan banding telah mengklaim bahwa kematian oleh regu tembak akan baik sepenuhnya atau hampir tanpa rasa sakit dan memiliki lebih sedikit ruang untuk kesalahan daripada injeksi mematikan, yang telah menyebabkan beberapa kasus eksekusi yang menyiksa.

Seperti diketahui, John Marion Grant, terpidana mati Oklahoma lainnya yang dieksekusi tahun lalu, "mulai kejang-kejang sekitar dua lusin kali" selama eksekusinya dengan suntikan mematikan dan muntah di wajahnya sendiri sebelum dia akhirnya dinyatakan meninggal sekitar 21 menit setelah suntikan pertama.

Pada 2014, Profesor Amherst College Austin Sarat mengungkapkan bahwa tingkat suntikan mematikan yang gagal adalah 7% lebih tinggi daripada bentuk eksekusi lainnya.

Kasus serupa telah digunakan untuk mendukung metode eksekusi alternatif, seperti regu tembak, yang banyak digunakan di AS sebelum injeksi mematikan menjadi opsi default di 27 negara bagian yang masih menggunakan hukuman mati. Moratorium eksekusi telah berlaku di California, Oregon, dan Pennsylvania.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini