Share

Kisah 'Manusia Radioaktif' Hishashi Ouchi, Dijaga Tetap Hidup Meski Kulit Meleleh dan Menangis Darah

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 14 Februari 2022 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 14 18 2547043 kisah-manusia-radioaktif-hishashi-ouchi-dijaga-tetap-hidup-meski-kulit-meleleh-dan-menangis-darah-eOCA0pHsE3.jpg Hishashi Ouchi mengalami insiden saat bekerja di PLTN Tokaimura. (Foto: LadBilble)

JAKARTA – Sebuah insiden yang terjadi di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Tokaimura lebih dari 21 tahun lalu membuat seorang teknisinya hidup selama hampir tiga bulan dengan kulit yang meleleh, mengeluarkan air mata darah, dan memohon agar dia dibiarkan mati.

Hishashi Ouchi adalah salah satu dari tiga teknisi di PLTN Tokaimura yang terkena dampak parah dari insiden pada 30 September 1999.

BACA JUGA: 10 Tahun Bencana Nuklir Fukushima, Nasib Energi Nuklir Jepang Dinilai Suram

Dia bersama dua rekannya bertugas melarutkan dan mencampur uranium oksida yang diperkaya dengan asam nitrat untuk menghasilkan uranil nitrat.

Namun, ketiga teknisi yang kurang berpengalaman dan terlatih untuk melakukan tugas rumit tersebut melakukan kesalahan. Mereka menuangkan 16 kg uranium, tujuh kali lipat dari batas yang diperbolehkan, 2,4 kg, ke dalam campuran.

Menurut laporan, ketiga teknisi itu mencampurkan senyawa itu secara manual dan mereka tidak memiliki cara untuk mengukur berapa banyak yang telah digunakan.

Kesalahan itu membuat cairan tersebut mencapai 'titik kritis' dan melepaskan radiasi neutron dan sinar gamma yang berbahaya ke atmosfer.

Ouchi, yang saat itu berusia 35 tahun, terekspos radiasi dalam jumlah besar, terbanyak di antara rekan-rekannya. Dia menderita luka bakar, menjadi pusing dan muntah hebat.

Namun, penderitaannya baru saja dimulai.

Dia ditemukan telah menyerap 17 Sievert (Sv) radiasi, tingkat tertinggi yang diderita oleh setiap manusia yang hidup dan lebih dari dua kali jumlah yang seharusnya membunuh seseorang. Sebagai perbandingan responden darurat dalam bencana nuklir Chernobyl pada 1986 hanya terkena 0,25Sv, menurut History of Yesterday.

Shinohara dan Yutaka Yokokawa, dua rekan yang bersama Ouchi juga terkena radiasi, masing-masing 10 Sv dan 3Sv.

Ouchi dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Tokyo setelah insiden itu dan area di sekitar pabrik ditutup.

Saat Ouchi tiba Rumah Sakit Universitas Tokyo, dia mengalami luka bakar radiasi di seluruh tubuhnya, hampir tidak memiliki sel darah putih dan kerusakan parah pada organ internalnya. Dia hampir mati tanpa campur tangan staf di rumah sakit.

Selama minggu pertama di rumah sakit Ouchi berada di bawah perawatan intensif, menerima pengobatan kanker revolusioner yang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah sel darah putihnya, serta banyak cangkok kulit dan transfusi darah.

Kondisi Hisashi Ouchi di Rumah Sakit Universitas Tokyo. 

Namun, luka-luka dan kondisi yang dialami Ouchi membuatnya mengalami rasa sakit yang luar biasa. Paparan radiasi membuat kulit Ouchi meleleh dan membuat darah keluar dari bola matanya. Setelah seminggu perawatan dia memberi tahu para dokter untuk menghentikan perawatan.

“Saya tidak tahan lagi, saya bukan kelinci percobaan.”

Meski begitu, dokter terus melanjutkan pengobatannya.

Pada hari ke-59 perawatannya, Ouchi yang hampir tak bernyawa menderita tiga kali serangan jantung dalam waktu kurang dari satu jam. Para dokter di rumah sakit menyadarkan Ouchi usai setiap serangan jantung, memperpanjang rasa sakitnya.

Barulah pada hari ke-83 perawatan, tepatnya pada 21 Desember 1999, Ouchi meninggal karena kegagalan beberapa organ.

Shinohara, rekan Ouchi yang juga terpapar dosis radiasi yang mematikan, bertahan hidup selama 7 bulan di rumah sakit dan meninggal dunia pada 27 April 2000. Dia meninggal karena gagal paru-paru dan hati setelah pertempuran panjang melawan efek radiasi yang dideritanya.

Selama 7 bulan dirawat di Rumah Sakit Universitas Tokyo, Shinohara menerima beberapa cangkok kulit, transfusi darah dan perawatan kanker dilakukan padanya dengan sedikit keberhasilan. Tetapi, penderitaannya Ouchi jauh lebih menyakitkan dibanding rekannya itu.

Supervisor teknisi Yutaka Yokokawa juga menerima perawatan karena paparan radiasi ringan. Dia akhirnya didakwa dengan tuduhan kelalaian pada Oktober 2000.

Perusahaan bahan bakar nuklir JCO membayar USD121 juta untuk menyelesaikan 6.875 klaim kompensasi dari orang-orang dan usaha yang telah menderita atau terkena radiasi akibat insiden tersebut.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini