Share

Ukraina Ancam Kembali Kembangkan Senjata Nuklir

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 21 Februari 2022 10:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 21 18 2550468 ukraina-ancam-kembali-kembangkan-senjata-nuklir-C5CRFKmugY.jpg Foto: US Navy.

KIEV – Presiden Volodymr Zelensky mengatakan bahwa Ukraina bisa menarik janji, yang telah dipegang selama puluhan tahun, untuk tidak memiliki senjata nuklir dan mulai mengembangkan senjata pemusnah massal tersebut. Hal ini disampaikan Zelensky di tengah ketegangan yang semakin meningkat dengan Rusia.

Berbicara pada konferensi keamanan Munich pada Sabtu (19/2/2022), Zelensky menunjukkan bahwa pada 1994 Ukraina bergabung dengan Memorandum Budapest dan menyerahkan senjata nuklirnya dengan imbalan jaminan keamanan, menunjukkan bahwa langkah tersebut dapat dibatalkan jika diancam oleh negara tetangga Rusia.

BACA JUGA: Tegang dengan Rusia, Ukraina Ancam Kembangkan Senjata Nuklir

“Hari ini kami tidak memiliki senjata atau keamanan. Kami telah kehilangan bagian dari wilayah kami, yang lebih luas dari Swiss, Belanda, Belgia. Dan, yang paling penting, kami telah kehilangan jutaan warga negara kami.,” kata Zelensky sebagaimana dilansir RT.

Dia juga mengatakan bahwa Ukraina mencoba untuk memulai konsultasi dengan negara-negara penjamin dari Memorandum Budapest tiga kali sebagai bagian dari upaya untuk meninjau persyaratannya. Namun, menurutnya sejauh ini upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

"Hari ini Ukraina akan melakukannya untuk keempat kalinya," katanya, menekankan bahwa dia telah memerintahkan Menteri Luar Negerinya Dmitry Kuleba untuk meminta konsultasi tetapi itu akan menjadi upaya terakhir dari pihak Ukraina.

BACA JUGA: Putin Tegaskan Warga Ukraina dan Rusia adalah Bersaudara

"Jika itu tidak terjadi atau tidak ada keputusan konkret mengenai jaminan keamanan untuk negara kita, Ukraina berhak untuk percaya bahwa Memorandum Budapest tidak berfungsi dan semua keputusan paket 1994 telah dipertanyakan," kata Zelensky. .

Pemimpin Ukraina itu menggarisbawahi bahwa “kecaman kolektif” oleh sekutu Barat sejauh ini belum berubah menjadi “tindakan kolektif.”

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Menjawab pertanyaan setelah pidato, Zelensky mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan "pemimpin satu negara besar" tentang masalah sanksi potensial terhadap Rusia. Dia menjelaskan ketidakpuasannya dengan pernyataan rekannya dengan mengatakan: “Kami tidak membutuhkan sanksi ketika kami sudah ditembaki, ketika perbatasan hilang, ketika negara kami sudah diduduki. Apa manfaat sanksi ini bagi kita setelahnya?”

Selama beberapa bulan terakhir, negara-negara Barat telah berulang kali menuduh Rusia atas dugaan rencana untuk menyerang Ukraina, tudingan yang dengan tegas disangkal oleh Moskow. Pada Jumat (18/2/2022), pihak berwenang dari dua wilayah yang memisahkan diri di Ukraina timur mengklaim bahwa Kiev merencanakan serangan militer ke wilayah mereka. Pejabat Ukraina juga telah membantah klaim ini.

Presiden Zelensky menegaskan bahwa Perjanjian Minsk, yang siap menjadi peta jalan untuk proses perdamaian, telah "ditulis dengan buruk" dan tidak menguntungkan Ukraina. Sebaliknya, Zelensky ingin melihat dokumen baru, yang akan ditandatangani oleh “negara-negara besar”, termasuk Rusia dan Amerika Serikat (AS), yang akan berisi beberapa klausul tentang jaminan keamanan untuk Ukraina.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini