Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Curah Hujan di Indonesia Meningkat 70 Persen, Kepala BMKG Ungkap Penyebabnya

Carlos Roy Fajarta , Jurnalis-Senin, 21 Maret 2022 |14:43 WIB
Curah Hujan di Indonesia Meningkat 70 Persen, Kepala BMKG Ungkap Penyebabnya
Dwikorita. (Foto: DPR RI)
A
A
A

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati memberikan penjelasan kepada masyarakat dan anggota DPR terkait cuaca ekstrim yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia beberapa waktu terakhir. Salah satunya yakni peningkatan curah hujan hingga 70 persen.

Hal tersebut disampaikannya saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI di Gedung Parlemen Senayan Jakarta pada Senin (21/3/2022).

"Cuaca ekstrem dan dinamisnya perubahan iklim beberapa waktu terakhir disebabkan karena adanya pemanasan global," ujar Dwikorita Karnawati.

Ia menyebutkan posisi Indonesia yang letak geografisnya ada di antara samudera Pasifik dan Hindia, dan benua Asia dan Australia ditambah ada di garis khatulistiwa menyebabkan fenomena iklim dan cuaca di Indonesia sangat dinamis. 

"Cuaca di Indonesia sangat dipengaruhi cuaca global yaitu kehadiran faktor El Nino dan La Nina (Samudera Pasifik), kemudian Dipolmode di Samudera Hindia, suhu permukaan laut Indonesia yang luasnya 60 persen wilayah Indonesia, dan dipengaruhi monsun atau angin yang bertiup dari dua benua sisi Utara dan Selatan," jelas Dwikorita Karnawati.

Ia mengungkapkan iklim di Indonesia amat bervariasi dan kompleks dibandingkan negara-negara lainnya yang posisi geografisnya ada di dalam daratan benua besar.

Baca juga:  Guncangan Gempa di Garut Terasa hingga Bandung

"Hal ini berdampak pada kemarau panjang di 2015 dan 2016, serta La Nina 2020 dan 2021 yang menyebabkan peningkatan curah hujan 70 persen setiap bulannya," ungkap Dwikorita.

Hal itu diperparah dengan efek gas rumah kaca dan pemanasan global. Akibat dari gas rumah kaca yang berperan menghalangi pantulan cahaya matahari kembali ke angkasa dan kembali ke Bumi sehingga memanaskan bumi. 

"Gas rumah kaca berasal dari CO2 (karbon dioksida) energi fosil atau minyak bumi yang banyak digunakan dalam transportasi dan industri. Serta penebangan hutan yang masih sehingga asimilasi oksigen dan CO2 terhambat, serta aktifitas pertanian," tutur Dwikorita Karnawati.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement