Share

Siap Teken Pakta Keamanan, Kepulauan Solomon Tak Izinkan China Bangun Pangkalan Militer

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 01 April 2022 14:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 01 18 2571600 siap-teken-pakta-keamanan-kepulauan-solomon-tidak-izinkan-pembangunan-pangkalan-militer-NtpNNaRGaG.jpg Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare. (Foto: Reuters)

SYDNEY – Kepulauan Solomon mengatakan tidak akan mengizinkan China membangun pangkalan militer meski negara kepulauan Pasifik itu berencana menandatangani pakta keamanan dengan Beijing. Hal itu disampaikan di tengah reaksi sejumlah negara di kawasan, termasuk Australia dan Selandia Baru terkait perjanjian keamanan tersebut.

Sehari setelah pejabat dari kedua negara menandatangani rancangan perjanjian tentang keamanan, kantor Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare pada Jumat (1/4/2022) mengatakan bahwa perjanjian itu tidak mengundang China untuk mendirikan pangkalan militer.

"Pemerintah sadar akan konsekuensi keamanan dengan menjadi tuan rumah pangkalan militer, dan tidak akan gegabah untuk membiarkan inisiatif semacam itu terjadi di bawah pengawasannya," kata kantor perdana menteri dalam sebuah pernyataan yang dilansir Reuters.

Sogavare belum merilis rincian perjanjian keamanan dengan China, di tengah kekhawatiran yang dipicu oleh bocoran rancangan yang memungkinkan kapal angkatan laut China untuk kembali mengisi logistiknya di pulau-pulau tersebut. Menteri dari kedua negara belum menandatangani perjanjian tersebut.

Pemimpin Negara Federasi Mikronesia pada Kamis mendesak Kepulauan Solomon untuk tidak menandatangani pakta keamanan, dengan mengatakan dia memiliki "masalah keamanan yang serius" dan khawatir Pasifik dapat terlibat dalam perang antara China dan Amerika Serikat (AS).

Selandia Baru juga telah memperingatkan terhadap pakta tersebut, yang dikatakan dapat mengganggu kerja sama keamanan regional yang sudah berlangsung lama. Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton pada Jumat mengatakan dia menghormati perspektif Sogavare tetapi mendesak agar berhati-hati.

China telah menetapkan 20 titik kehadiran militer di Laut China Selatan meskipun mengatakan kepada Amerika Serikat bahwa mereka tidak akan memiliterisasi kawasan itu, dan Canberra khawatir Beijing berada di jalur yang sama di pulau-pulau Pasifik, kata Dutton dalam sebuah wawancara dengan Sky News.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Mereka menginginkan pelabuhan militer di PNG (Papua Nugini). Mereka punya satu di Sri Lanka, dan mereka jelas sedang mencari tempat lain di mana mereka bisa menempatkannya," katanya.

China menawarkan untuk membangun kembali pangkalan angkatan laut di Papua Nugini pada 2018 tetapi tetangga utara terdekat Australia memutuskan untuk meminta Australia mengembangkan pangkalan itu.

Sebuah perusahaan negara China menjalankan Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka di bawah sewa 99 tahun, meskipun Sri Lanka sebelumnya mengatakan pelabuhan itu tidak dapat digunakan untuk tujuan militer China.

Sebuah pangkalan militer China di Kepulauan Solomon akan mendorong Australia untuk secara signifikan meningkatkan penempatan militernya ke wilayah tersebut karena pulau-pulau itu sangat dekat dengan Australia, kata Dutton.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan perjanjian keamanan antara Kepulauan Solomon dan China akan merusak stabilitas di kawasan itu.

"Kami tidak percaya bahwa ada kebutuhan bagi negara-negara di luar keluarga Pasifik untuk memiliki peran keamanan," katanya di radio lokal, Jumat.

Kementerian luar negeri China mengatakan pada Kamis bahwa "kerja sama keamanan pulau-pulau China-Solomon tidak menargetkan pihak ketiga mana pun dan tidak bertentangan dengan negara lain", dan perjanjian itu mencakup ketertiban sosial, melindungi jiwa dan harta benda, dan tanggap bencana alam.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini