Share

Mengenal Ramzan Kadyrov, Pemimpin Chechnya Pendukung Putin Serang Ukraina

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 22 April 2022 03:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 21 18 2583190 mengenal-ramzan-kadyrov-pemimpin-chechnya-pendukung-putin-serang-ukraina-3keJuWmVlu.png Putin saat berbincang dengan Ramzan Kadyrov pada 31 Agustus 2019. (Foto: AFP via Getty Images)

RAMZAN Kadyrov, pemimpin wilayah Chechnya sekaligus sekutu Presiden Vladimir Putin, menyebut pasukan Rusia akan sepenuhnya mengambil alih pabrik baja Azovstal.

Tempat itu merupakan basis pasukan Ukraina yang berupaya keras mempertahankan kota pelabuhan Mariupol di Ukraina selatan.

"Hari ini, dengan bantuan Yang Maha Kuasa, kami akan mengambil alih Azovstal sepenuhnya", kata Kadyrov dalam pesan audio di saluran Telegram miliknya, seperti dikutip kantor berita Reuters pada Selasa (19/4).

Rusia sudah meminta tentara Ukraina dan pasukan asing yang bersembunyi di pabrik Azovstal untuk meletakkan senjata, "jika ingin hidup".

Siapa Ramzan Kadyrov?

Milisi Chechnya pada suatu ketika menembakkan senjata ke segala arah. Pada saat yang sama tahanan Ukraina berlutut dengan tatapan kosong. Beberapa jenazah tahanan terlihat diseret.

Peristiwa itu dibanggakan Kadyrov, sebagai bukti perjuangan anak buahnya di Ukraina demi Rusia. Dia mengunggah rekaman itu di akun media sosialnya, seperti yang dikabarkan kantor berita AFP.

Kadyrovtsy adalah milisi Chechnya "dengan reputasi jahat". Mereka dikerahkan untuk bergabung dengan pasukan Rusia di Ukraina.

Publik Ukraina menyebut orang-orang Chechnya termasuk di antara pasukan invasi Rusia "yang paling brutal".

Ramzan Kadyrov, pemimpin milisi itu, dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia, antara lain penyiksaan dan eksekusi mati. Namun dia secara bangga mengunggah video pertempuran anak buahnya di Ukraina ke Telegram.

Baca juga: Oligarki Sekutu Putin Tewas Ditembak Bersama Istri dan Anaknya di Apartemen Mewah Moskow

Kadyrov membuat klaim bahwa anak buahnya memerangi "Nazi Kyiv". Ini adalah narasi yang sama dengan yang dibuat pemerintah Rusia.

Kadyrov adalah putra seorang pemimpin kemerdekaan Chechnya, Akhmad Kadyrov, yang beralih dan bergabung dengan Rusia. Dia merupakan anak didik Vladimir Putin.

Dia selama ini dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Republik Chechnya yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Kadyrov menyambut baik invasi Putin ke Ukraina. Tak lama setelah pasukan Rusia berangkat ke Ukraina, dia mengatakan akan segera mengirim milisi untuk menyokong invasi.

Otokrat berusia 45 tahun itu sempat menyatakan akan melakukan perjalanan ke Mariupol, kota pelabuhan Ukraina yang terkepung dan mengalami kehancuran parah sejak invasi Rusia.

Kadyrov mengunggah foto dirinya berpose dengan sekitar 30 pria. Dia berkata bahwa foto itu diabadikan di Mariupol.

Kadyrov juga mengeklaim telah menemukan dan "menghukum" dengan tangannya sendiri seorang tentara Ukraina yang menyiksa seorang Rusia.

Para anak buah Kadyrov sering membanggakan diri karena telah "menghabisi" tentara Ukraina yang terluka.

Kebrutalan seperti itu sesuai dengan reputasi yang diperoleh Kadyrovtsy dalam konflik yang melibatkan Rusia sebelumnya. Mereka terlibat dalam konflik-konflik sebelumnya, baik di Chechnya, di Ukraina pada 2014 dan juga di Suriah.

Aurelie Campana, pakar kekerasan politik dan Rusia di Universitas Laval di Kanada, menyebut pengerahan Kadyrovtsy adalah bagian dari "perang psikologis" Moskow di Ukraina.

"Mengumumkan masuknya pasukan Kadyrov ke dalam perang dan propaganda yang mengelilinginya adalah bagian dari upaya untuk mengacaukan musuh," kata Campana.

'Menumbuhkan ketakutan'

"Mereka dikenal karena kekejamannya," kata Campana dalam sebuah analisis di situs The Conversation.

"Melibatkan pasukan Chechnya bertujuan untuk memicu ketakutan masyarakat Ukraina," tuturnya.

Pada awal perang, desas-desus menyebar bahwa Putin mengirim orang-orang Chechnya untuk membunuh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.

Kadyrov juga telah bersumpah bahwa Zelensky akan segera menjadi "mantan presiden Ukraina".

Zelensky kemudian menjadi simbol perlawanan Ukraina. Dia menentang invasi Putin dengan rutin tampil di media sosial, meraih popularitas global dan juga mengolok-olok Kadyrovtsy.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Berapa banyak pasukan Chechnya di Ukraina?

Kadyrov pada pertengahan Maret lalu menyebut sekitar 1.000 anak buahnya berada di Ukraina. Tidak ada cara untuk memverifikasi angka tersebut.

"Tidak ada yang tahu persis berapa banyak orang Chechnya yang berperang di Ukraina atau di mana tepatnya mereka ditempatkan," kata pakar politik Rusia Alexei Malashenko kepada AFP.

Kelompok di Chechnya yang menentang Kadyrov, di sisi lain, bergabung dengan pasukan Ukraina untuk melawan Rusia.

Sejumlah pakar mengatakan, Kadyrovtsy dikirim Rusia untuk menjaga ketertiban. Walau kebrutalan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi, keberhasilan mereka belum terbukti.

Sementara itu Kadyrov dengan penuh kemenangan sempat mengumumkan bahwa anak buahnya telah merebut gedung balai kota Mariupol.

Kemudian dia mengunggah video yang menunjukkan bahwa dia sebenarnya mengacu pada gedung yang berbeda.

"Kadyrov mengambil bagian dalam operasi atas Ukraina untuk menunjukkan kesetiaan totalnya kepada Putin dan untuk mempertahankan pengaruhnya," kata pakar politik Konstantin Kalachev.

"Baginya, operasi itu adalah publisitas pribadi," ujar Kalachev.

'Mendisiplinkan tentara Rusia'

Kadyrov sebelumnya dicurigai berada di balik beberapa pembunuhan figur publik di Rusia, antara lain kritikus pemerintah Boris Nemtsov dan jurnalis Anna Polikovskaya.

Komandan Kadyrov yang sekarang berada di Mariupol, Ruslan Geremeyev, diyakini telah mengatur penembakan Boris Nemtsov tepat di dekat tembok Kremlin pada tahun 2015.

Geremeyev terluka pada akhir Maret saat berperang melawan pasukan Ukraina di Mariupol.

Di Ukraina, milisi Kadyrovtsy diyakini juga ditugaskan untuk mendisiplinkan tentara Rusia seperti yang telah mereka lakukan untuk kelompok pro-Moskow dalam perang tahun 2014.

"Pengalaman pasukan Kadyrov tidak hanya menjadi aset untuk mengatasi perlawanan di Ukraina, tapi juga untuk mendisiplinkan pasukan Rusia dan kroni-kroninya," tulis Campana.

Memang, orang-orang Kadyrov tidak memiliki hubungan yang mulus dengan tentara Rusia. Masih terdapat kebencian yang tersisa dari perang berdarah di Chechnya pada 1990-an.

"Namun Putin mempercayai mereka sepenuhnya," kata Malashenko.

"Bagi Kadyrov, berpartisipasi dalam operasi Ukraina adalah kesuksesan pribadi," katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini