Share

Polemik Taliban Wajibkan Presenter TV Pakai Cadar, Dianggap Ingin Singkirkan Wanita dari Layar

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 20 Mei 2022 15:48 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 20 18 2597459 polemik-taliban-wajibkan-presenter-tv-pakai-cadar-dianggap-ingin-singkirkan-wanita-dari-layar-cz4P17TzUK.jpg Taliban wajibkan presenter TV pakai penutup muka (Foto: CNN)

KABUL – Suasana di TOLOnews, saluran berita independen terkemuka Afghanistan tiba-tiba menjadi suram pada Kamis (19/5/2022) pagi. Staff telah diberitahu sehari sebelumnya bahwa Taliban telah memerintahkan presenter perempuan untuk menutupi wajah mereka saat siaran.

Arahan ini datang pada Rabu (18/5/2022) dari Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan, yang menggantikan Kementerian Urusan Wanita negara itu setelah Taliban berhasil menguasai Afghanistan pada Agustus tahun lalu.

Di ruang redaksi, yang berkantor pusat di Kabul tengah, dua presenter menangis saat berbincang dengan CNN.

"Mereka ingin perempuan disingkirkan dari layar. Mereka takut pada perempuan terpelajar," kata Khatera, 27 tahun, yang menjadi pembawa berita pagi selama lima bulan terakhir.

Baca juga: Taliban: Presenter TV Perempuan Afghanistan Wajib Kenakan Penutup Wajah

"Pertama, mereka melarang anak perempuan pergi ke sekolah dan kemudian mereka muncul di media sekarang. Saya yakin, mereka tidak menginginkan kehadiran perempuan pada umumnya," lanjutnya.

Selama rapat redaksi pada Kamis (19/5/2022) pagi, sekelompok sekitar 30 staf, lebih dari sepertiganya perempuan, membahas agenda berita hari itu. Umpan TOLOnews dan dua saluran TV saudaranya diputar di belakang mereka, di samping saluran berita internasional.

Baca juga: Taliban Wajibkan Perempuan Tutupi Wajah Mereka di Tempat Umum

Direktur stasiun Khpolwak Sapai memberi tahu tim bahwa dia mempertimbangkan untuk tutup saja setelah menerima arahan, tetapi kemudian berpikir bahwa staf wanita yang bersedia melakukan aturan itu harus diizinkan melakukannya.

Sebelumnya, presenter wanita sudah menyesuaikan diri dengan pengambilalihan Taliban dengan menggunakan jilbab mereka untuk menyembunyikan rambut mereka.

Arahan terbaru menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi saluran berita independen terkemuka Afghanistan selama sembilan bulan terakhir, termasuk melihat lebih dari 90% stafnya melarikan diri dari negara itu setelah kedatangan Taliban.

"Semua reporter saya yang dulu bekerja di ruangan ini - semua presenter, pria dan wanita - pergi," kata Sapai kepada CNN dalam sebuah wawancara di kantornya.

"Dan semua produser, semua sumber daya manusia yang bekerja di TOLOnews pergi. Di tingkat manajemen, Saya berdiri sendiri," lanjutnya.

"Saya hanya berpikir bagaimana menjaga layar tetap hidup [dan] tidak menjadi gelap... Aku tidak percaya aku bisa melakukannya,” ujarnya.

Di tengah kekacauan, Sapai tidak punya waktu untuk takut akan keselamatannya sendiri saat dia fokus pada bagaimana tetap mengupayakan agar stasiun televisinya tetap siaran.

Sekarang presenter wanitan, yang menikmati hak mereka selama 20 tahun, takut akan kemunduran yang curam.

"Apa yang harus kami lakukan? Kami tidak tahu. Kami siap sampai akhir untuk berjuang melakukan pekerjaan kami, tetapi mereka tidak mengizinkan kami," kata pembawa berita Tahmina berusia 23 tahun sambil menangis.

"Ini adalah penjara psikologis dan demotivasi," tambahnya.

"Kami tidak memiliki motivasi untuk tampil di layar dengan bebas dan terbuka,” ungkapnya.

Rekannya Heela, yang dulunya ada di depan kamera, sekarang bekerja sebagai produser karena khawatir akan keselamatannya.

Ketakutannya bukannya tidak berdasar. Menurut data yang dikumpulkan oleh Committee to Protect Journalists. Dalam lima tahun terakhir saja, 24 jurnalis telah terbunuh di Afghanistan,

Namun, jaringan tersebut menyelenggarakan debat on-air tentang aturan berpakaian Taliban dan apakah itu Islam. Dan mereka bahkan mengundang pejabat Taliban untuk memperdebatkan masalah ini, terkadang dengan presenter wanita.

Sementara itu, di seberang kota, juru bicara pemerintah Taliban Zabihullah Mujahid menghadiri pertemuan dengan wartawan lokal untuk memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, yang jatuh pada 3 Mei.

CNN mencoba menghentikannya dalam perjalanan untuk menanyakan mengapa wanita harus menutupi wajah mereka. "Itu imbauan dari kementerian," katanya.

Ketika ditanya apakah itu wajib, Mujahid menjawab bahwa "mereka harus memakainya," dan menyamakannya dengan penggunaan masker selama pandemi.

"Seperti di masa pandemi Covid-19, masker itu wajib,” ujarnya.

Komunitas internasional telah menjelaskan bahwa menghormati hak-hak perempuan dan pendidikan anak perempuan akan menjadi syarat utama untuk pengakuan yang dicari oleh para penguasa baru Afghanistan. Tetapi banyak wanita Afghanistan takut akan masa depan.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini