JAKARTA - Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno pernah dituding berusaha meminta ampun ke Kolonial Belanda saat dibui di Penjara Sukamiskin, Bandung (1929-1931). Melalui surat-suratnya Bung Karno disebut bersedia melakukan apa saja termasuk meninggalkan gelanggang politik, asal Belanda menghentikan hukumannya.
Tudingan yang menggegerkan sekaligus menimbulkan polemik cukup panjang itu muncul dalam opini media massa tahun 1980 yang ditulis Rosihan Anwar. Sumbernya adalah buku Road To Exile: The Indonesian Nationalist Movement, 1927-1934 (Jalan ke Pembuangan-Gerakan Nasionalis Indonesia, 1927-1934) karya sarjana Australia Dr John Ingleson.
Ingleson menyuguhkan cerita dengan mengutip salinan surat Bung Karno yang ditujukan kepada Jaksa Agung Hindia Belanda. Empat lembar surat yang isinya diungkap itu tersimpan dalam arsip Belanda dan terdaftar sebagai Laporan Pos Rahasia 1933/1276. Tudingan Bung Karno bertekuk lutut itu mengundang reaksi sejumlah tokoh intelektual Indonesia.
Salah satunya datang dari Mahbub Djunaidi, seorang sastrawan, jurnalis, sekaligus Ketua Umum PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) pertama (1960-1967). Ia meragukan keaslian surat-surat Bung Karno, dan karenanya perlu dilakukan pemeriksaan sehingga diperoleh kebenaran yang sebenarnya.
“Apakah surat-surat itu otentik? Apakah bukan ciptaan kaum intel yang sering punya bakat besar mengarang kisah fiktif ? Pabrik cerita-cerita macam begitu memang kadang-kadang diperlukan untuk tujuan tertentu,” kata Mahbub Djunaidi seperti dikutip dari buku “Bung Karno Antara Mitos dan Demitologi”.
Baca juga: Pakai Telur, Begini Cerita Permainan Sandi Rahasia Bung Karno di Penjara Sukamiskin
Sebagai perbandingan, Mahbub Djunaidi memberi contoh ulah intel Belanda saat berlangsungnya sidang terakhir Kongres NU di Surabaya tanggal 19 Oktober 1927. Intel Belanda itu diperintahkan menyusup sekaligus membuat catatan yang lantas disimpan di Koloniaal Archief Geheim Mailrapport 261/X/28.
Isi catatan itu juga diragukan kebenarannya sebagaimana yang disebut surat minta ampun Soekarno kepada Jaksa Agung Belanda. “Betulkah ada pembicara dalam kongres itu yang berkata: Mereka yang menyalahgunakan Agama untuk urusan politik, pantas dibuang saja ke Digul, habis perkara?,” tanya Mahbub Djunaidi.
Keraguan akan keaslian empat surat Bung Karno tertanggal 30 Agustus, 7, 21 dan 28 September 1933 itu juga datang dari Anwar Luthan, seorang pensiunan pejabat tinggi Departemen Penerangan RI. Menurutnya banyak hal penting yang perlu mendapat jawaban jelas sehingga kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan.
“Taruhlah bahwa memang betul Soekarno menulis surat-surat macam itu, masih perlu dipertanyakan, kenapa Pemerintah Hindia Belanda tidak mempublikasikan surat-surat itu?,” katanya.
Fakta sejarah mencatat, Bung Karno tidak mendapat pembebasan dari pemerintah Hindia Belanda. Begitu bebas dari vonis 4 tahun penjara yang dipotong menjadi 2 tahun, ia kembali giat dalam pergerakan kemerdekaan.
Bahkan sebelum ditangkap kembali pada Maret 1933 di Pengalengan selatan, Bandung, Bung Karno telah menyiapkan risalah “Mencapai Indonesia Merdeka”. Pada kata pengantar risalah tertulis dengan tegas: Hanya rakyat yang mau merdeka, bisa merdeka. Risalah itu ditulis setelah Bung Karno keliling ke Jawa Tengah dengan tujuan membangkitkan semangat rakyat.