Share

Kisah Perjuangan RS Merawat Orang-Orang dengan Peralatan Minim Usai Gempa M6,1 Guncang Afghanistan

Susi Susanti, Okezone · Minggu 26 Juni 2022 18:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 26 18 2618562 kisah-perjuangan-rs-merawat-orang-orang-dengan-peralatan-minim-usai-gempa-m6-1-guncang-afghanistan-PGXxmyiQ95.jpg Korban yang dirawat di rumah sakit dengan fasilitas dan perawatan minim akibat gempa mengguncang Afghanistan (Foto: BBC)

KABUL - Gempa sebesar 6,1 Skala Richter (SR) yang mengguncang Afghanistan masih menyisakan kisah sedih. Termasuk perjuangan para korban yang dirawat di rumah sakit (RS) dengan fasilitas minim dan perawatan seadanya.

Wajah Shakrina yang berusia delapan tahun berkerut kesakitan dan dia menangis ketika  mencoba untuk berbalik ke sisinya. Dia memiliki beberapa patah tulang di tubuhnya dan kaki kirinya diperban dari lutut ke bawah.

Dari ranjang rumah sakit di sebelahnya, ibunya, Mira, mengulurkan tangannya, mencoba menghiburnya. Mata kanan Mira memar parah, dan dia memiliki sejumlah luka lainnya.

Keduanya ditarik keluar dari bawah puing-puing rumah mereka di distrik Gayan di provinsi Paktika, Afghanistan, enam jam setelah gempa bumi menghancurkannya.

Baca juga: Gempa M 6,1 di Afghanistan Tewaskan 1.000 Orang, Indonesia Sampaikan Belasungkawa

"Saya tidak bisa melihat putri saya yang lain di mana pun, jadi saya bertanya kepada mereka yang menyelamatkan saya di mana dia berada. Saat itulah mereka memberi tahu saya bahwa dia telah meninggal," kata Mira, menyeka air matanya dengan jilbabnya.

Baca juga: Gempa M6,1 Guncang Afghanistan, Taliban: Operasi Penyelamatan Hampir Selesai 

Dia menemukan putrinya yang masih remaja Gulnoora di antara mayat-mayat yang diletakkan berjajar oleh tim penyelamat di Gayan.

"Biasanya kami tidur di luar rumah, tapi malam itu hujan dan petir, jadi kami tidur di dalam," anjutnya.

Sekarang dalam pemulihan di rumah sakit provinsi utama Paktika, Mira berada di bangsal tempat hampir semua orang memiliki cerita yang sama.

Termasuk bibi Hawa yang ada di sana bersama putrinya yang berusia 11 bulan, Safia. Keduanya memiliki beberapa patah tulang. Mereka telah kehilangan 18 anggota keluarga mereka dalam gempa yang terjadi pada Rabu (22/6/2022), yang menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Anak-anak Bibi Hawa lainnya, ketiga putranya Farooq, Hamzah dan Maqsadullah, termasuk di antara mereka yang tewas.

"Hati saya sakit. Sekarang ketika saya pulang tidak akan ada orang di sana," ujarnya.

Sehari setelah gempa, dia termasuk di antara 75 orang yang terluka yang dibawa ke rumah sakit provinsi di Sharana, ibu kota provinsi Paktika. Fasilitas ini memiliki 72 tempat tidur, dan sudah ada pasien yang menderita penyakit lain.

Itu tidak dilengkapi untuk merawat orang dengan cedera tulang belakang, atau mereka yang membutuhkan bedah saraf. Sehingga kasus yang lebih parah harus dirujuk ke fasilitas lain.

Pasien yang telah menempuh perjalanan berjam-jam dari daerah terpencil untuk sampai ke rumah sakit harus menempuh perjalanan panjang lagi di jalan yang bergelombang dan tidak beraspal untuk mendapatkan perawatan.

Mira dan Bibi Hawa termasuk di antara mereka yang terjerumus ke dalam kemiskinan. Lainnya adalah buruh Shindigul Zadran.

Hampir setiap hari sebelum gempa dia tidak dapat menemukan pekerjaan. Terluka dalam bencana, dia memiliki batang baja yang dimasukkan di kaki kanannya yang berarti, setidaknya untuk sementara, dia tidak punya cara untuk mencari nafkah. Dan dia kehilangan rumahnya.

"Seluruh keluarga saya bekerja sangat keras sepanjang hidup kami untuk membangun rumah kami. Sekarang sudah tidak ada lagi," katanya. "Kami tidak akan pernah bisa membangunnya kembali tanpa bantuan,” tambahnya.

Sebelum pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban, perawatan kesehatan publik hampir seluruhnya didanai oleh uang asing. Bantuan itu dibekukan pada 15 Agustus tahun lalu, membuat rumah sakit dan fasilitas medis hampir ambruk.

Setelah gempa bumi, Taliban telah meminta dukungan masyarakat internasional. BBC pun ke Menteri Kesehatan Masyarakat Dr Qalandar Ebad apakah mereka sudah menerima bantuan.

“Ya, kami telah menerima bantuan dari negara-negara di kawasan seperti Iran, Pakistan, India, Qatar, UEA, dan beberapa negara Arab juga. Eropa telah menjanjikan dukungan, dan kami melihat bahwa presiden AS juga membuat pernyataan. Kami menunggu bagi negara-negara di seluruh dunia untuk melihat bagaimana tepatnya mereka dapat membantu kami," katanya.

Pemerintah Taliban tidak diakui secara internasional. Kelompok ini juga memiliki sanksi terhadap mereka.

BBC bertanya kepada Dr Ebad apakah Taliban telah berbuat cukup untuk meyakinkan dunia agar mengakui pemerintah mereka.

"Ya, kami telah memenuhi semua parameter untuk pengakuan internasional. Dan yang terpenting, semua orang Afghanistan mendukung kami,” lanjutnya.

Taliban bukanlah pemerintah terpilih. Dan tanpa mereka memenuhi komitmen mereka pada hak-hak perempuan dan hak asasi manusia, bagaimana kelompok itu mengharapkan dunia untuk mengakui mereka, saya bertanya.

Dr Ebad membela pemerintahnya. "Ada beberapa kesalahpahaman di antara komunitas internasional. Kami telah berbuat lebih banyak untuk wanita daripada pemerintah lainnya,” ungkapnya.

Dia mengatakan perempuan lebih aman di bawah pemerintahan Taliban, dan mereka berencana untuk memastikan semua anak perempuan mendapatkan pendidikan. Tindakan mereka mendustakan klaim tersebut.

Diketahui, Taliban dituduh menahan dan memukuli pengunjuk rasa perempuan yang menuntut hak-hak perempuan. Mereka telah melarang anak perempuan dari sekolah menengah, dan perempuan dari pekerjaan, kecuali di sektor kesehatan dan keamanan publik. Baru-baru ini mereka juga mengumumkan aturan tentang apa yang harus dipakai wanita di tempat umum.

Tetapi banyak yang menunjuk ke akuntabilitas Barat juga. Dana asing berkontribusi pada tiga perempat pengeluaran negara di Afghanistan dan tanpa itu, negara itu telah mengalami krisis ekonomi. Jutaan warga Afghanistan biasa terperangkap dalam politik bantuan.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini