Brasil sebenarnya memiliki peraturan perundangan-undangan yang mengatur tentang penggunaan senjata. Undang-undang tersebut dikeluarkan pada 2003 dan mengatur tentang perlucutan senjata. Aturan ini juga meliputi perizinan kepemilikan senjata dengan syarat usia minimum, pemeriksaan latar belakang, serta lisensi izin yang diperbarui setiap lima tahun sekali.
Namun, peraturan tersebut tidak sepenuhnya dijalankan dengan baik. Oleh karena itu kasus penembakan sering terjadi di Brasil. Total kematian di Brasil akibat senjata api pada 2019 sebesar 49,4%.
Amerika Serikat
Jumlah kematian karena senjata api di Amerika Serikat (AS) mencapai 37%, pada 2019. Penggunaan senjata api yang dilonggarkan di AS membuat kasus penembakan di negara ini sangat tinggi. Baru baru ini kasus penembakan terjadi di SD Robb di Kota Uvalde, Texas Selatan.
Peristiwa yang terjadi pada 1 Juni 2022 lalu ini menyebabkan 21 orang tewas. Sebanyak 19 di antaranya merupakan anak-anak. Kepolisian AS mengungkapkan, asus pembunuhan ini dipicu cuaca yang lebih hangat. Cuaca yang lebih hangat atau panas ini membuat suhu tubuh menjadi tinggi dan menimbulkan emosi.
Pada 2020, profesor kebijakan kesehatan di Harvard TH Chan School of Public Health, David Hemenway, bersama dengan Paul Reeping yang merupakan mahasiswa bimbingannya, menulis makalah di Injury Epidemiology tentang hubungan antara suhu panas dengan angka kejahatan yang tinggi. Makalah ini menemukan, suhu 10 derajat Celsius secara signifikan dikaitkan dengan 34% penembakan yang terjadi pada hari kerja. Kemudian pada hari libur atau akhir pekan, penembakan meningkat menjadi 42%.