Share

Ketika Rusia dan Barat Bersaing Merebut Perhatian dan Hati Afrika

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 29 Juli 2022 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 29 18 2638723 ketika-rusia-dan-barat-bersaing-merebut-perhatian-dan-hati-afrika-3934X9ZBbr.jpg Menlu Rusia Sergei Lavrov melakukan kunjungan ke 4 negara Afrika (Foto: EPA)

RUSIA – Ketika Rusia terisolasi di Barat karena mengobarkan perang di Ukraina, ‘karpet merah’ digelar untuk Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov selama tur empat negaranya di Afrika.

Dia dilaporkan mengunjungi Mesir, Ethiopia, Uganda dan Kongo-Brazzaville. Kunjungan Lavrov menunjukkan bahwa Rusia masih memiliki kekuatan diplomatik untuk menantang Barat untuk merebut hati dan pikiran pemerintah Afrika.

Bagi Lavrov, kunjungan itu penting untuk melawan klaim bahwa Rusia "mengekspor kelaparan" ke Afrika. Dia menyalahkan sanksi yang dijatuhkan pada Rusia oleh negara-negara Barat karena melonjaknya harga gandum.

 Baca juga: Menlu Lavrov: Afrika Akan Berperan Besar dalam Kebijakan Luar Negeri Rusia

Dia tidak menawarkan bantuan kepada negara-negara Afrika untuk meredam dampak krisis biaya hidup.

Hal ini bisa dibandingkan dengan pengumuman dari AS yang menjanjikan negara-negara Afrika dana sebesar USD1,3 miliar (Rp19 triliun) untuk mengekang kelaparan atau inisiatif Misi Ketahanan Pangan dan Pertanian (FARM) yang dipimpin Prancis untuk membantu pertanian Afrika.

Barat diketahui seolah ingin sekali membuat kesan tersendiri dan mungkin mengingatkan negara-negara Afrika bahwa ia menawarkan lebih banyak dalam hal perdagangan dan bantuan.

Baca juga: Menlu Rusia: Geografi Sudah Berbeda, Perluas Wilayah Perang Lampaui Donbas

Selama turnya, Lavrov juga fokus pada KTT Rusia-Afrika yang akan diadakan di Ethiopia pada Oktober mendatang, di mana kesepakatan perdagangan dan pertahanan dapat ditandatangani untuk memperkuat hubungan.

Dia juga berusaha bertemu dengan Utusan Khusus AS untuk Tanduk Afrika Michael Hammer, yang juga mengunjungi Mesir dan Ethiopia.

Pada konferensi pers dengan Lavrov, Presiden Uganda Yoweri Museveni menegaskan kembali posisinya netral atas konflik di Ukraina.

"Kami tidak percaya menjadi musuh dari musuh seseorang," katanya.

Seperti diketahui, sebagian besar negara Afrika - termasuk Nigeria dan Kenya, kekuatan ekonomi Afrika Barat dan Afrika Timur masing-masing - memilih mendukung resolusi majelis umum PBB pada Maret lalu, mengutuk "agresi" Rusia dan menuntut penarikannya dari Ukraina.

Namun, hampir setengah dari semua abstain, 17 diantaranya berasal dari Afrika. Negara-negara dalam daftar ini termasuk Afrika Selatan - yang merasa berhutang budi kepada Moskow atas dukungannya dalam memerangi kekuasaan minoritas kulit putih - dan Uganda, yang akan menjadi ketua Gerakan Non-Blok, sebuah badan global yang dibentuk selama Perang Dingin oleh negara-negara yang ingin menghindari terjebak dalam persaingan antara kekuatan Barat dan blok komunis.

Secara tradisional, perdagangan Moskow dengan Afrika berfokus pada pertahanan - mulai dari penjualan senapan otomatis hingga jet tempur. Baru-baru ini tentara bayaran Rusia telah dikerahkan ke Mali dan Republik Afrika Tengah (CAR) untuk membantu pasukan pemerintah memadamkan pemberontakan.

Sementara itu, saat di Mesir, Lavrov memberikan jaminan bahwa eksportir biji-bijian Rusia akan memenuhi "komitmen" mereka.

Ekonomi Mesir lebih bergantung pada Rusia daripada banyak negara Afrika lainnya. Sekitar 80% dari impor gandumnya berasal dari Rusia dan Ukraina, dan sepertiga turis asingnya adalah orang Rusia.

Rusia juga telah meletakkan dasar untuk pembangkit listrik tenaga nuklir senilai USD26 miliar (Rp386 triliun) di Mesir.

Adapun Presiden Prancis Emmanuelle Macron melakukan tur Afrikanya sendiri minggu ini. Dia mengunjungi Kamerun, Benin dan Guinea-Bissau.

"Kami disalahkan oleh beberapa orang yang mengatakan bahwa sanksi Eropa adalah penyebab krisis pangan dunia, termasuk di Afrika. Itu sepenuhnya salah. Makanan, seperti energi, telah menjadi senjata perang Rusia,” terangnya saat berada di Kamerun.

Melawan pandangan ini, Lavrov mengatakan krisis pangan dimulai dengan pandemi Covid, tetapi mengakui bahwa situasi di Ukraina juga mempengaruhi pasar makanan.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini