“Setiap pemimpin perusahaan yang independen dari [Putin] dipandang sebagai ancaman karena bisa saja membiayai oposisi atau memupuk protes, sehingga mereka dianggap sebagai musuh Putin sekaligus musuh negara,” tambahnya.
Mints secara terbuka menentang kebijakan Putin pada 2014 setelah aneksasi Krimea dari Ukraina.
Dia harus meninggalkan Rusia dan pindah ke Inggris pada 2015 di saat "penindakan terhadap oposisi politik meningkat". Pada tahun yang sama, Boris Nemtsov ditembak mati.
Nemtsov adalah musuh bebuyutan Putin. Pembunuhannya pada 2015 merupakan pembunuhan politis yang paling disorot sejak Putin berkuasa.
Pihak berwenang menyangkal keterlibatan apa pun dalam kasus itu.
Dua tahun kemudian, perusahaan investasi 01 Group yang saat itu dimiliki oleh Mints menyadari bahwa “perusahaan terlibat konflik terbuka melawan Bank Sentral Rusia” dan menghadapi proses hukum di beberapa yurisdiksi berbeda.
“Ketika hal semacam itu terjadi, itu semacam sinyal bahwa seseorang harus segera meninggalkan negara itu,” kata dia.
Mints masih menjadi subjek gugatan hukum oleh Kremlin karena menyarankan orang-orang kaya Rusia yang kontra dengan Putin mengambil "langkah berani" dengan "pergi diam-diam ke pengasingan", sambil mencontohkan kasus Mikhail Khodorkovsky yang pernah menjadi orang terkaya Rusia.
Khodorkovsky berujung dipenjara selama hampir satu dekade atas tuduhan penipuan dan pengemplangan pajak yang dia klaim bermotif politik.
Dua oligarki paling terkemuka di Rusia, Mikhail Fridman dan Oleg Deripaska berhenti mengkritik Putin usai secara terpisah menyerukan perdamaian di Ukraina.
Fridman, yang merupakan seorang bankir miliarder, mengatakan setiap pernyataan pribadi bisa berisiko tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga untuk karyawan dan rekan-rekannya.
Namun Mints bersama taipan Rusia, Oleg Tinkov –pendiri Tinkoff Bank—mengecam invasi tersebut.