Share

AS dan Kanada Anggap Serius Ancaman Putin Gunakan Senjata Nuklir di Perang Ukraina

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 23 September 2022 13:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 18 2673496 as-dan-kanada-anggap-serius-ancaman-putin-gunakan-senjata-nuklir-di-perang-ukraina-OQyvWJUmF0.jpg Juru bicara Pentagon John Kirby (Foto: Anadolu Agency)

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) menanggapi "serius" ancaman terselubung Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan menggunakan senjata nuklir untuk mempertahankan wilayah di Ukraina.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan AS tidak mengubah "postur pencegahan strategis", tetapi Putin berbicara dengan tidak bertanggung jawab.

"Ini adalah preseden berbahaya bagi Putin untuk menggunakan retorika semacam ini dalam konteks perang yang jelas bahwa dia kalah di Ukraina," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Kirby kepada BBC.

"Kami harus menanggapi ancaman ini dengan serius dan kami melakukannya... Kami telah memantau, sebaik mungkin, kemampuan nuklirnya, saya dapat memberi tahu Anda bahwa kami tidak melihat indikasi bahwa kami perlu mengubah postur pencegahan strategis kami. pada saat ini,” lanjutnya.

Baca juga:Β Β Soal Mobilisasi Militer Putin, Ini Reaksi Keras Dunia Internasional

Dia menolak rencana Rusia untuk mencaplok wilayah lebih lanjut dari Ukraina.

β€œIni tidak lebih dari taktik oleh Vladimir Putin untuk mencoba mendapatkan wilayah melalui politik dan masalah pemilihan, yang tidak bisa dia dapatkan secara militer,” ujarnya.

Baca juga:Β Β Imbas Mobilisasi Militer Putin, Antrean Panjang Warga Rusia Ingin Melarikan Diri ke Perbatasan

"Tapi itu tidak akan berhasil," katanya.

"Tidak ada yang akan mengenalinya. Dan yang perlu terjadi adalah Tuan Putin harus meninggalkan Ukraina. Dia harus menghentikan perang ini,” ungkapnya.

Sikap senada diambil Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau. Trudeau mengatakan ancaman senjata nuklir perlu ditanggapi dengan serius dan sekutu Barat harus "berdiri sangat tegas melawan" Rusia.

"Kanada akan terus mendukung upaya Kiev dengan memperkuat sanksinya terhadap Rusia dan mengirimkan bantuan militer ke Ukraina," katanya, dikutip Antara.

Seperti diketahui, pada Rabu (21/9/2022), Putin memperingatkan negaranya akan menggunakan semua cara yang ada untuk melindungi wilayahnya.

Dalam pidatonya pada Rabu (21/9/2022), Putin juga mengumumkan panggilan untuk cadangan dalam sebuah langkah yang menurut para analis adalah tanda bahwa pasukan Rusia di Ukraina sedang berjuang untuk mempertahankan jalur wilayah yang mereka tempati di timur dan selatan.

Pengumuman itu terjadi ketika empat wilayah Ukraina yang sebagian diduduki oleh pasukan Rusia akan melakukan pemungutan suara untuk bergabung dengan Rusia. Adapun Ukraina dan sekutunya menyebut pemungutan suara ini sebagai latihan palsu, yang dirancang untuk memberikan legitimasi palsu untuk aneksasi ilegal.

Sementara itu, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan dalam sebuah pernyataan di media sosial (medsos) pada Kamis (22/9/2022) bahwa cara Rusia akan mempertahankan diri dengan semua cara termasuk menggunakan "senjata nuklir strategis".

Tapi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh beberapa anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mencoba untuk memaksakan narasi palsu pada operasi Moskow di Ukraina, dan menyatakan kembali tuduhan bahwa etnis Rusia telah dianiaya oleh pasukan pemerintah Ukraina.

"Ada upaya hari ini untuk memaksakan pada kami narasi yang sama sekali berbeda untuk menunjukkan agresi Rusia sebagai asal dari semua tragedi," terangnya.

"Ini mengabaikan fakta bahwa selama lebih dari delapan tahun tentara Ukraina dan pejuang dari formasi nasionalis membunuh dan terus membunuh penduduk [wilayah Ukraina timur] Donbas dengan impunitas hanya karena mereka menolak untuk mengakui hasil kudeta. di Kyiv. Mereka memutuskan untuk menegakkan hak-hak mereka, yang dijamin oleh Konstitusi Ukraina, termasuk hak untuk bebas menggunakan bahasa Rusia, bahasa ibu mereka,” lanjutnya.

Rusia mencoba untuk membenarkan invasinya dengan mengatakan bahwa mereka memerangi neo-Nazi, sebuah klaim yang secara luas ditolak oleh komunitas internasional, serta menentang ekspansi NATO.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini