Share

Penembakan Massal 37 Orang Tewas di Thailand, Saksi Mata: Darah Ada di Mana-Mana

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 07 Oktober 2022 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 07 18 2682554 penembakan-massal-37-orang-tewas-di-thailand-saksi-mata-darah-ada-di-mana-mana-lP1ioman6x.jpg Saksi mata menceritakan penembakan massal yang menewaskan 37 orang di tempat penitipan anak di Thailand (Foto: BBC)

BANGKOK - Para saksi mata pembantaian di sebuah pusat penitipan anak di Thailand menceritakan momen mengerikan ketika seorang mantan petugas polisi menerobos masuk dan menyerang staf dan anak-anak.

Nanticha Panchum, kepala guru di tempat penitipan anak itu, mengatakan bahwa setelah mengatur anak-anak untuk tidur siang, ia hendak membuat makan siang tatkala mendengar lima suara tembakan.

Ia mengatakan kepada BBC biasanya ada 92 anak-anak di pusat itu, tetapi karena bus yang mengangkut mereka sedang mogok dan cuaca hujan, jadi hanya ada 24 anak di lokasi pada saat serangan. Dia menjelaskan hanya satu anak yang selamat.

"Ini sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saya benar-benar tidak bisa memikirkan apa pun saat ini," katanya.

Baca juga: Penembakan Massal 37 Orang Meninggal di Thailand, Pelaku Tembak Guru yang Sedang Hamil 8 Bulan

Salah satu guru lain mengenali si penyerang sebagai orang tua dari seorang anak di tempat penitipan anak yang juga disebut PAUD itu. Meskipun anak tersebut sudah tidak bersekolah selama sebulan.

Baca juga: Penembakan Massal 37 Orang Tewas di Thailand, Pelaku Bunuh Istri dan Anaknya Sebelum Bunuh Diri

Nanticha mengatakan pria tersebut terlihat seperti orang tua murid lainnya. Dia selalu berlaku sopan ketika mengantar putranya dan kadang-kadang hampir terlalu banyak bicara.

Tetapi pada Kamis (6/10/2022), Nanticha menceritakan seorang kolega berkata kepadanya bahwa pria yang dikenal itu masuk dan menembak secara membabi buta ke arah anak-anak.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Para guru berusaha mengunci pintu, tetapi pria itu mendobrak masuk dan pergi ke kamar tempat anak-anak tidur.

Nanticha mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa beberapa anggota staf sedang makan di luar ketika si penyerang memarkir mobilnya dan menembak mati empat orang dari mereka.

Ia kemudian mendobrak pintu dengan kakinya dan kemudian masuk ke dalam dan mulai menyerang anak-anak.

Seorang guru PAUD yang kelimpungan menceritakan bagaimana ia mengunci pintu dan berusaha mencari pertolongan sebelum si pembunuh, bersenjatakan pistol dan pisau, menembak masuk dan menyerang anak-anak yang sedang tidur.

Badannya gemetaran ketika menceritakan kepada Thairath TV Thailand bagaimana ia mendengar suara "mirip dengan petasan" dan menyaksikan dua koleganya terbaring di lantai sebelum melihat si penyerang berjalan ke arahnya.

Ia mengatakan ia menyuruh rekan-rekan lain untuk masuk ke sebuah ruangan dan mengunci pintu sebelum memanjat keluar dari dinding untuk mencari pertolongan.

Guru itu menangis sambil mengatakan ia tidak berhasil melakukan itu.

Anak-anak berusia paling muda dua tahun termasuk di antara korban serangan di PAUD yang terletak di Provinsi Nong Bua Lamphu.

Menurut pejabat distrik Jidapa Boonsom, yang bekerja di sebuah kantor di dekatnya, jumlah anak-anak di sekolah lebih sedikit dari biasanya ketika si penyerang tiba karena hujan lebat membuat banyak orang tidak berangkat bekerja.

"Penembak datang sekitar waktu makan siang dan mula-mula menembak empat atau lima petugas di pusat penitipan anak," terangnya kepada kantor berita Reuters.

Si penyerang kemudian mendobrak masuk ke ruang terkunci tempat anak-anak sedang tidur dan menyerang mereka.

Awalnya orang mengira tembakan itu kembang api.

"Ini sungguh mengejutkan. Kami sangat takut dan berlari untuk bersembunyi begitu kami tahu itu penembakan. Begitu banyak anak yang terbunuh, saya belum pernah melihat yang seperti itu,” lanjutnya.

Seorang guru yang berhasil melarikan diri menyebut pisau yang dibawa penyerang "seperti pisau untuk memotong rumput - bentuknya melengkung".

Paweena Purichan, 31, mengatakan kepada kantor berita AFP ia sedang mengendarai sepeda motornya ke toko ketika bertemu dengan si penyerang yang mencoba menabrak pengemudi lain saat ia melarikan diri dari tempat kejadian menggunakan truk.

"Ia berniat menabrak orang lain di jalan," katanya.

"Si penyerang menabrak sebuah sepeda motor dan dua orang terluka. Saya pun ngebut untuk menjauh darinya,” lanjutnya.

"Ada darah di mana-mana," ujarnya.

Polisi menyebut nama pelaku adalah Panya Kamrab, seorang letnan kolonel polisi yang telah diberhentikan dari kepolisian karena menggunakan narkoba.

Menurut media ThaiPBS, para saksi mengatakan ia tampak gelisah sebelum serangan itu dan melepaskan tembakan setelah tidak dapat menemukan anaknya di pusat penitipan anak itu.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini