Share

Anak Kedelapan Miliar Dilahirkan, Ini Urutan Kelima hingga Ketujuh Miliar

Tim Okezone, Okezone · Minggu 20 November 2022 17:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 20 18 2711233 anak-kedelapan-miliar-dilahirkan-ini-urutan-kelima-hingga-ketujuh-miliar-nEdhqTi5kb.JPG Anak keenam miliar Adnan Mevic/Foto: BBC

JAKARTA - Hanya dalam 11 tahun, populasi di dunia telah melonjak menjadi delapan miliar sejak anak ketujuh miliar dilahirkan. Namun, PPB memperkirakan bahwa setelah lonjakan besar populasi pada abad ke-20, pertumbuhan penduduk akan melambat.

Seperti dilansir dari BBC, Minggu (20/11/2022), setidaknya butuh waktu 15 tahun untuk mencapai sembilan miliar dan PBB memperkirakan jumlahnya tidak akan mencapai 10 miliar sampai tahun 2080 tiba.

 BACA JUGA:Sejumlah Kader Deklarasi Dukung Anies, Suara di Tubuh PPP Terbelah

Sulit untuk menghitung jumlah orang di dunia secara akurat, dan PBB mengakui hasilnya baru bisa keluar satu atau dua tahun.

Namun, tanggal 15 November adalah waktu perkiraan terbaik, di mana angka delapan miliar itu akan terlewati. Anak kedelapan miliar telah dilahirkan di Filipina. Bayi itu diberi nama Vinice Mabansag.

 BACA JUGA:Untuk Pertama Kalinya, Kim Jong Un Pamerkan Putrinya yang Jarang Muncul di Publik

Pada tahun-tahun sebelumnya, PBB telah memilih bayi untuk mewakili populasi kelima, keenam, dan ketujuh miliar.

1. Anak kelima miliar

Beberapa menit setelah ia lahir pada bulan Juli 1987, jepretan kamera sudah berada di depan wajah Matej Gaspar yang mungil. Sekelompok politisi yang mengenakan setelan jas pun berada di sekeliling ibunya yang kelelahan.

Terjebak di belakang iring-iringan mobil di luar, pejabat PBB Inggris Alex Marshall merasa ikut bertanggung jawab atas kekacauan sesaat yang dia timbulkan di unit bersalin kecil di pinggiran Kota Zagreb.

"Kami pada dasarnya melihat proyeksi dan menemukan gagasan bahwa populasi dunia akan melewati lima miliar pada 1987," katanya.

"Dan tanggal statistiknya adalah 11 Juli." Mereka memutuskan untuk menetapkan bayi kelima miliar di dunia.

Ketika dia mengunjungi para ahli demografi PBB untuk menjelaskan gagasan itu, mereka marah.

"Mereka menyebut kami orang-orang bodoh, bahwa kami tidak tahu apa yang kami lakukan. Dan kami benar-benar tidak boleh memilih satu individu di antara begitu banyak."

Namun, mereka tetap melakukannya.

"Ini soal menempatkan wajah pada angka-angka," katanya. "Kami menemukan di mana sekretaris jenderal akan berada hari itu."

Tiga puluh lima tahun kemudian, bayi kelima miliar di dunia mencoba melupakan upacara penyambutannya ke dunia.

Halaman Facebook-nya menunjukkan dia tinggal di Zagreb, menikah dengan bahagia, dan bekerja sebagai insinyur kimia.

Namun dia menghindari wawancara dan menolak berbicara kepada BBC.

"Yah, saya tidak menyalahkan dia," kata Alex, mengingat perlakuan media di hari kelahiran Matej.

Sejak itu, tiga miliar orang telah bertambah. Namun, 35 tahun ke depan diperkirakan hanya ada penambahan dua miliar, dan kemudian pertumbuhan populasi global kemungkinan akan mendatar.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

2. Anak keenam miliar

Di Bosnia-Herzegovina, salah satu negara dengan penurunan populasi tercepat di dunia, Adnan Mevic dilahirkan.

Dia memiliki gelar master di bidang ekonomi dan sedang mencari pekerjaan. Jika dia tidak dapat menemukannya, dia akan pindah ke Uni Eropa.

Seperti banyak negara di Eropa Timur, negaranya telah dilanda bencana ganda, yaitu kesuburan rendah dan emigrasi tinggi.

Adnan tinggal di luar Sarajevo bersama ibunya, Fatima, yang memiliki kenangan nyata tentang kelahirannya.

"Saya menyadari ada sesuatu yang tidak biasa saat itu karena dokter dan perawat berkumpul, tetapi saya tidak tahu apa yang terjadi," kata Fatima.

Ketika Adnan lahir, Sekjen PBB saat itu Kofi Annan hadir untuk membaptisnya sebagai bayi ke-enam miliar di dunia.

“Saya sangat lelah, saya tidak tahu bagaimana perasaan saya,” kenang Fatima sambil tertawa.

Gelar bayi keenam miliar membuat Adnan mendapatkan undangan untuk bertemu pahlawannya, Cristiano Ronaldo, di Real Madrid, ketika ia berusia 11 tahun.

3. Anak ketujuh miliar

Di luar Dhaka di Bangladesh, Sadia Sultana Oishee membantu ibunya mengupas kentang untuk makan malam.

Dia berusia 11 tahun dan lebih suka bermain sepak bola di luar, tetapi orang tuanya menerapkan peraturan yang sangat ketat.

Keluarga mereka harus pindah ke sini ketika bisnis mereka, menjual kain dan sari, terdampak pandemi.

Kehidupan di desa lebih murah, sehingga mereka masih mampu membayar uang sekolah untuk ketiga putrinya.

Oishee adalah yang termuda dan dianggap keberuntungan keluarga. Lahir pada 2011, ia dinobatkan sebagai salah satu dari bayi ketujuh miliar di dunia.

Ibunya tidak tahu apa yang akan terjadi. Dia bahkan tidak menyangka akan melahirkan hari itu.

Setelah kunjungan dokter dia dikirim ke bangsal persalinan untuk operasi caesar darurat.

Oishee lahir pada satu menit lewat tengah malam, dikelilingi oleh kru TV dan pejabat lokal yang saling mendekat untuk melihatnya.

Sejak Oishee lahir pada 2011 banyak yang telah berubah di dunia, dan para ahli demografi selalu terkejut.

"Kami tidak menyangka bahwa kematian akibat AIDS akan turun begitu rendah, bahwa pengobatan akan menyelamatkan begitu banyak orang," kata Samir KC, seorang ahli demografi di IIASA.

Dia harus mengubah modelnya karena peningkatan angka kematian anak memiliki dampak jangka panjang, karena anak-anak yang berhasil bertahan hidup telah memiliki anak-anaknya sendiri.

Dan kemudian ada penurunan kesuburan yang mengejutkan.

Para ahli demografi terkejut ketika jumlah anak yang lahir per perempuan, di Korea Selatan, turun menjadi rata-rata 0,81, kata Samir KC.

"Jadi, akan menjadi berapa titik terendahnya? Ini adalah pertanyaan besar bagi kami."

Ini adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh semakin banyak negara.

Meskipun penambahan setengah miliar orang berikutnya diperkirakan hanya berasal dari delapan negara, kebanyakan dari Benua Afrika, di sebagian besar negara tingkat kesuburan akan lebih rendah dari 2,1 anak per perempuan, jumlah yang diperlukan untuk mempertahankan populasi.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini