Share

Ukraina Terus Cari Bukti Kejahatan Perang Rusia, Keluarga Korban Minta Pertanggungjawaban Putin

Susi Susanti, Okezone · Selasa 06 Desember 2022 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 06 18 2721589 ukraina-terus-cari-bukti-kejahatan-perang-rusia-keluarga-korban-minta-pertanggungjawaban-putin-M4FYStDPF5.jpg Ukraina terus mencari bukti kejahatan perang Rusia (Foto: Reuters)

VYSOKOPILLIA - Tamila Pehyda, seorang pensiunan guru sekolah, menangis saat para penggali kubur menggali jenazah suaminya dan seorang ahli patologi forensik memeriksa jenazah itu untuk menentukan penyebab kematiannya.

Seperti diketahui, Serhiy, yang berusia 70 tahun ketika dia meninggal pada Juni lalu di desa Vysokopillia, Ukraina selatan, terbunuh oleh pecahan peluru selama penembakan artileri berat ketika Ukraina berusaha merebut kembali wilayah dari Rusia.

Proses penggalian mengerikan itu dilakukan oleh otoritas Ukraina yang mengumpulkan bukti tentang bagaimana orang meninggal dan apakah potensi kejahatan perang telah dilakukan oleh pasukan Rusia yang berperang di Ukraina.

Baca juga:  Negara Kaya G7 Setuju Penyelidikan Kejahatan Perang Ukraina, Dirikan Pusat Kontak Nasional di Setiap Negara Bagian

Mereka, dan banyak kerabat yang terlibat, ingin meminta pertanggungjawaban Rusia atas apa yang telah terjadi sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada 24 Februari lalu

Baca juga:  AS Tuduh Rusia Lakukan Kejahatan Perang 'Sistemik' di Perang Ukraina

"Tentu saja, mereka harus bertanggung jawab atas segalanya, baik secara moral maupun fisik," kata Tamila kepada Reuters pada Senin (5/12/2022) saat dia berdiri di dekat makam sementara mendiang suaminya, dikutip Reuters.

"Betapa banyak kesedihan yang mereka bawa ke sini. Untuk anak-anak, untuk cucu,” lanjutnya.

Seperti banyak orang Ukraina dari desa dan kota yang sebagian besar telah diratakan dalam pertukaran artileri dan pertempuran jarak dekat, dia melarikan diri dari Vysokopillia sebisa mungkin. Namun sang suami Serhiy memutuskan untuk tetap tinggal.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Begitu pula Tetiana Muzychko, 58, Wakil kepala kotamadya setempat yang lari ke rumah Serhiy ketika mendengar ledakan keras. Dia mengatakan Serhiy dalam kondisi sadar ketika dia menemukannya, tetapi luka di kaki dan tubuh bagian bawahnya sangat parah sehingga dia meninggal.

"Lukanya sangat parah," katanya sambil menghibur Tamila di hari yang dingin tanpa matahari.

Hujan salju ikut menemani proses penggalian kuburan di mana Muzychko mengatakan lebih dari 20 penduduk desa yang tewas dalam pertempuran kemungkinan besar dikubur.

"Mereka (pasukan Rusia) berkata: 'Mengapa Anda menembaki kami? Kami datang untuk membebaskan Anda.' Saya bertanya kepada mereka: 'Bebaskan kami dari apa? Dari fakta bahwa kami hidup dengan baik, lebih baik dari Anda?,” terangnya.

Dia berharap Rusia akan dimintai pertanggungjawaban di tingkat tertinggi atas dugaan pelanggaran selama perang, termasuk oleh Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag.

"Mereka harus bertanggung jawab atas semua yang telah mereka lakukan,” lanjutnya.

Sementara itu, Tamila berencana akan menguburkan suaminya di kuburan permanen. Menurut tradisi, dia meletakkan topi, kacamata, dan sisir Serhiy di peti mati sebelum jenazahnya dimakamkan.

Moskow sebelumnya membantah tuduhan telah menargetkan warga sipil, dan menolak tuduhan kejahatan perang. Puluhan ribu orang - baik kombatan maupun warga sipil - tewas dalam pertempuran tersebut.

Rusia mengirim pasukan ke Ukraina dalam apa yang disebutnya "operasi khusus" untuk menurunkan kemampuan militer tetangga selatannya dan membasmi orang-orang yang disebut nasionalis berbahaya. Kyiv menolak pembenaran ini sebagai hal yang tidak benar atau palsu.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini