Share

Ketika Tank, Senjata, hingga 'Gigi Naga' Menjaga Pulau Perbatasan Korsel dari Ancaman Serangan Korut

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 09 Desember 2022 14:44 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 09 18 2723896 ketika-tank-senjata-hingga-gigi-naga-menjaga-pulau-perbatasan-korsel-dari-ancaman-serangan-korut-FIUpXSrScv.jpg Kapal Korsel membantu mengamankan wilayah perbatasan dengan Korut (Foto: AP)

BAEKRYEONG – Baekryeong adalah wilayah paling barat Korea Selatan (Korsel). Pulau ini memiliki tentara yang melebihi jumlah penduduk mereka. Dari sini, Anda dapat melihat Korea Utara (Korut) dari hampir setiap garis pantai yang dipenuhi kawat berduri.

Pulau Baekryeong menjadi sebuah komunitas di garis depan Korsel. Jauh lebih dekat ke daratan Korea Utara daripada ke Selatan, Baekryeong adalah sebuah benteng. Tank diparkir di sisi jalan, ada pos jaga di setiap bukit, dan pantai yang indah ditutupi ‘gigi naga’ yakni beton berbentuk piramida benteng untuk mencegah invasi.

Seoul diberikan kendali atas pulau seluas sekitar 45 kilometer persegi pada akhir permusuhan Perang Korea pada 1950-an, tetapi sekitar 5.000 penduduknya - ditambah jumlah tentara yang lebih banyak lagi - hidup di bawah ancaman tingkat rendah yang konstan.

Baca juga: Korut Ancam Kerahkan Tindakan Kuat ke AS jika Tidak Hentikan Latihan Militer Bersama Korsel

Dikutip AFP, pulau ini telah lama menjadi ‘hot spot’ militer yang potensial. Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong-un mengklaim pada 2013 bahwa ia dapat "menghujani lautan api" di Baekryeong, dan kemudian melakukan latihan invasi tiruan amfibi pada 2017.

Baca juga: Korut Tembakkan Rudal ke Korsel, Presiden Yoon Bersumpah Balas dengan Cepat dan Tegas

Pulau ini memiliki kepentingan strategis yang sangat besar bagi Seoul, karena membantu menentukan kendali atas jalur pelayaran penting Laut Kuning, yang tanpanya pelabuhan Incheon akan terputus dari dunia.

"Kadang-kadang saya bermimpi tentang Korea Utara menyerang, terutama dengan apa yang terjadi di berita," kata Kim Keum-sook, warga asli Baekryeong, 64, merujuk pada ledakan peluncuran rudal yang memecahkan rekor oleh Kim tahun ini.

Ketika dia besar di Baekryeong, yang terletak dua kilometer dari perbatasan laut de facto dan hanya 14 kilometer dari daratan Korea Utara, Kim secara teratur dievakuasi selama periode ketegangan tinggi.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

"Saya masih takut," katanya. Meski dia memiliki suami yang juga penduduk asli pulau itu, Choi Won-mo, 65, tapi dia ingin pemerintah tetap melindung mereka sebaik mungkin.

"Marinir, angkatan udara, angkatan laut, dan tentara Korea Selatan semuanya berada di Baekryeong, selalu siaga tinggi," ujarnya.

Perbatasan maritim ‘flashpoint’ ini telah menjadi tempat pertempuran intermiten, termasuk pertukaran tembakan peringatan di perairan sekitar Baekryeong pada Oktober lalu setelah sebuah kapal Korea Utara melintasi Garis Batas Utara.

Choi mengatakan peristiwa seperti itu adalah "kejadian biasa" tetapi setelah 70 tahun hidup dalam kondisi tak menentu atau limbo, orang pun akhirnya belajar untuk hidup dengan ketegangan konstan.

Seperti diketahui, Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata, meninggalkan kedua belah pihak secara teknis masih berperang.

Insiden terburuk seperti itu terjadi pada Maret 2010 hanya satu kilometer dari pulau itu ketika sebuah kapal perang Korea Selatan ditenggelamkan oleh apa yang dikatakan Seoul sebagai torpedo Korea Utara, menewaskan 46 pelaut di dalamnya.

Kini, pasukan Korsel rutin melakukan latihan artileri di pantai.

"Lihat saja semua pasukan dan senjata di sini, pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan pulau Baekryeong dengan segala cara," kata Lee Chung-dong, seorang nelayan berusia 71 tahun yang tinggal di sana selama setengah abad.

"Itu karena mereka tahu jika Baekryeong jatuh, Incheon juga akan jatuh,” ujarnya.

Terlepas dari ancaman bahaya yang ada, Baekryeong adalah tujuan wisata yang istimewa.

Biasanya feri yang menuju ke pulau itu mengambil rute memutar untuk membuatnya tidak terlalu rentan terhadap serangan Korea Utara.

Ratusan wisatawan yang sebagian besar domestik berkunjung setiap minggu, tertarik oleh kedekatannya dengan Utara, dan juga keindahan alam lokasi tersebut.

Salah satu daya tariknya yang paling menggelegar adalah formasi tebing yang dikenal sebagai Dumujin, yang digambarkan dalam tulisan seorang sarjana Dinasti Joseon sebagai "mahakarya terakhir dewa tua".

Tempat wisata lainnya yakni pantai Sagot dengan lantai pasir kuarsa yang keras menjadikannya landasan terbang alami selama Perang Korea.

"Keindahan Baekryeong terletak pada pemandangan alamnya," kata Kim Yong-sung, 50, yang sedang berkunjung bersama beberapa rekan kerjanya.

"Saya merasakan ada bahaya yang begitu dekat dengan perbatasan, tetapi karena ini selalu terjadi, itu tidak akan menghentikan saya untuk menikmati keindahan di sini,” lanjutnya.

Kim Chang-hee, 75, seorang pemandu taman, mengatakan fitur geologi kuno pulau itu menjadi pelajaran bagi mereka yang khawatir tentang posisi garis depannya.

"Pulau ini berusia lebih dari 10 juta tahun - lebih tua dari dinosaurus," katanya.

"Korea baru terbagi selama 70 tahun. Suatu hari, ini juga akan menjadi kenangan yang jauh,” ujarnya.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini