RUSIA - Buku 'Life and Fate' karya Vasily Grossman menghadirkan sebuah potret Soviet di Perang Dunia II yang mengungkap "sapuan besar sejarah serta detail butiran-butiran di dalamnya."
Dalam bulan-bulan terakhir, pengunjuk rasa di Rusia diciduk karena membentangkan poster spanduk kosong dan membagi-bagikan salinan ‘Nineteen Eighty Four’, novel karya George Orwell.
Pendemo dalam aksinya menyatakan konflik di Ukraina yang menewaskan puluhan ribu tentara Rusia sebagai "perang".
Di Rusia, kebebasan berekspresi memiliki sejarah yang elastis. Kebebasan datang dan pergi sementara fajar semu acap menggoda cakrawala.
BACA JUGA: Kisah Panjandrum, Senjata Mematikan Sekutu yang Gagal Diproduksi Saat Perang Dunia II
Dikutip BBC, salah satu contohnya terjadi pada 1956 ketika Nikita Khrushchev memimpin Kongres Partai Komunis pertamanya sebagai pemimpin Uni Soviet.
Saat acara itu hampir berakhir, desas-desus mulai beredar di aula konvensi. Akan ada "sesi tertutup" nanti malam. Tak seorang pun dari pers atau dari luar Uni Soviet akan diizinkan untuk hadir.
Ketika Khrushchev kembali ke panggung tak lama setelah tengah malam, dia melakukan sesuatu yang tidak dapat dibayangkan oleh siapapun di Rusia selama tiga dekade sebelumnya. Dia mengecam Stalin.
Pendahulunya itu, ujar Khrushchev dalam pidatonya, membangun kultus individu yang nyaris tak tergoyahkan.
Dan Stalin menggunakannya guna menghancurkan para pesaingnya dan mengirim orang-orang komunis yang tak bersalah ke lembah kematian.
Di puncak teror, Khrushchev diminta menandatangani perintah eskekusi terhadap puluhan ribu orang. Jika Khrushchev menolak, dia barangkali akan dicap sebagai musuh rakyat dan bakal dilempar ke neraka.