Share

Eksplorasi Tambang Minyak, China Makin Mesra dengan Taliban

Rifqa Nisyardhana, Okezone · Senin 23 Januari 2023 15:14 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 23 18 2751418 eksplorasi-tambang-minyak-china-makin-mesra-dengan-taliban-udjQAWol2D.jpg Taliban/Foto: Reuters

JAKARTA- Pemerintahan Afghanistan yang dipimpin Taliban akan meneken kontrak penambangan minyak dengan perusahaan asal China.

Kontrak tersebut akan ditandatangani dengan Xinjiang Central Asia Petroleum and Gas Co (CAPEIC), kata para pejabat dalam konferensi pers di Kabul.

Dilansir Reuters, kesepakatan itu juga semakin menonjolkan keterlibatan China di Afghanistan usai Taliban menguasai negara tersebut.

(Baca juga: Sejak AS Mundur dari Afghanistan, China Semakin Akrab dan Hangat dengan Taliban)

“Kontrak minyak Amu Darya merupakan proyek penting antara China dan Afghanistan,” ujar Duta Besar China Wang Yu dalam konferensi pers.

Sementara itu,meskipun belum sepenuhnya mengakui Taliban sebagai pemerintah yang sah di Afghanistan, Beijing mengakui bahwa kelompok tersebutlah yang mengendalikan negara dengan sumber daya alam sangat besar, sehingga hal ini tentunya menjadi penting bagi keamanan dan strategi ekonomi China.

Kesepakatan eksplorasi minyak tersebut, adalah investasi skala besar pertama yang dilakukan di Afghanistan, sejak Taliban mengambil alih negara yang dilanda perang itu pada Agustus 2021, menyusul penarikan pasukan Amerika Serikat, setelah 20 tahun berada di wilayah tersebut.

Keberhasilan China sebagai satu-satunya negara yang saat ini menguasai kerjasama eksplorasi minyak di Afganistan, tentunya memberikan angin segar bagi Beijing ditengah krisis dan keamanan energi negaranya. Apalagi sebagai negara terpadat di dunia dan raksasa industri, China juga merupakan konsumen energi terbesar di dunia.

Menanggapi hal ini, Dewan Pimpinan Pusat Pelajar Islam Indonesia (DPP PII) menilai, hal itu menjadi alasan diplomat China yang tidak ikut melarikan diri seperti perwakilan negara-negara dunia lainnya, saat kelompok Taliban menguasai Afganistan.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Wakil Bendahara DPP PII, Furqan Raka menyebut taktik China berdiam diri ditengah gelombang eksodus keluar dari Afganistan, tak lain untuk mengambil kesempatan untuk menjalin kerjasama dalam eksplorasi sumber daya alam negara, yang saat ini 100 persen dikuasai kelompok Taliban.

Sebagai negara terpadat di dunia dan raksasa industri, China menyadari bahwa mereka adalah konsumen energi terbesar di dunia.

“Harus diakui, China pintar sekali memanfaatkan situasi di Afganistan, paska dikuasai oleh kelompok Taliban. Beijing kini mungkin sudah dianggap saudara oleh Taliban, sehingga kerjasama strategis mulai terjalin antar kedua negara,” kata Furqan Raka kepada wartawan, Senin (23/1/2023).

Kerjasama eksplorasi minyak Afganistan, lanjut Furqan Raka, tentunya menjadi salah satu penyangga energi proyek-proyek strategis.

Salah satu proyek strategis dan ambisi China adalah Belt and Road Initiative (BRI), dimana Beijing berusaha untuk mengintegrasikan Eurasia dengan membangun jalan lintas benua dan rel kereta api, membangun rute logistik baru yang memungkinkan barang masuk dan keluar dari China.

“Bukan hanya itu, Beijing juga butuh energi dari minyak menggerakkan mesin-mesin proyek mereka di sejumlah wilayah yang diklaim China miliknya, seperti pulau-pulau di Laut China Selatan,” tutur Furqan Raka.

Selain untuk menggerakkan mesin-mesin proyek pembangunan, DPP PII menyebut infrastruktur serta peralatan militer China mulai kapal perang hingga pesawat tempur yang sering berseliweran dikawasan Laut China, juga memerlukan energi yang berasal dari minyak bumi.

Dia mengingatkan pemerintah Afganistan agar tidak terjebak dengan kerjasama dengan China, yang banyak dinilai oleh negara-negara dunia sebagai jebakan utang.

Tercatat saat ini ada lebih dari 40 negara berpenghasilan rendah dan menengah, memiliki utang ke China lebih dari 10 persen dari PDB mereka. Sementara itu, ada juga Djibouti, Laos, Zambia, dan Kirgistan memiliki utang ke China yang setara dengan setidaknya 20% dari PDB tahunan mereka.

“Utang-utang dari pihak BUMN, bank, serta usaha patungan atau lembaga swasta China ini lah yang kemudian dianggap sebagai "jebakan utang" atau "utang tersembunyi".

China kata dia tidak mempublikasikan catatan pinjaman luar negerinya, dan sebagian besar kontraknya mengandung klausul non-disclosure yang mencegah peminjam mengungkapkan isinya.

“Hati-hati dengan tawaran perjanjian kerjasama dengan China, bisa jadi ini jebakan utang, seperti yang menimpa beberapa negara dunia,” pungkas Furqan Raka.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini