PENCULIKAN peristiwa yang menjadi mimpi buruk bagi masyarakat. Penculikan terjadi bukan hanya pada satu dua orang, tapi ada pula penculikan yang dialami oleh banyak orang sekaligus.
Penculikan massal beberapa kali terjadi di berbagai negara, dengan korban lebih dari 50 orang. Berikut 3 kasus penculikan massal yang pernah terjadi di dunia, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, Sabtu (28/1/2023) :
1. Nigeria
Pada 2021, setidaknya ada 73 siswa sekolah menengah negeri di Nigeria diculik. Melansir Sindonews, sekolah yang berada di distrik Maradun, Zamfara itu menjadi sasaran bagi sekelompok penjahat bersenjata.
Usai kejadian itu, pemerintah menutup sekolah-sekolah di negara bagian Zamfara. Akibat penculikan ini, ada 1 juta anak di Nigeria yang enggan bersekolah karena khawatir menjadi korban penculikan.
Hingga tahun 2021, terdapat 20 serangan yang menyasar sekolah-sekolah dengan lebih dari seribu siswa diculik. Sementara itu, 200 anak dinyatakan hilang.
2. Irak
Sekitar 60 orang menjadi korban penculikan kelompok ekstremis di Bagdad, Irak, pada November 2006. Dalang dari peristiwa tersebut diketahui merupakan kelompok ekstremis dan teroris.
BACA JUGA:Dunia Kelam Aplikasi Kencan: Bertemu Perempuan Idaman Malah Diculik Orang Bersenjata
Sebelumnya, kelompok tak dikenal juga menculik 150 orang di gedung Kementerian Pendidikan, Bagdad. Dua tahun setelahnya, penculikan massal kembali terjadi di Bagdad dengan jumlah korban mencapai 40 mahasiswa.
Polisi Irak berhasil membebaskan para korban. Reuters menyebut, kelompok penculik sengaja membuat pos pemeriksaan palsu dan menghentikan dua bus yang mengangkut mahasiswa di desa al-Jirin.
Hanya satu bus yang berhasil dikuasai penculik, sementara bus lainnya berhasil melarikan diri. Meskipun tidak ada yang mengaku untuk bertanggung jawab, namun kepolisian Irak yakin bahwa kelompok Al Qaeda adalah otak di balik kasus ini.
3. Meksiko
Pada 2014, sebuah penculikan massal terjadi di Meksiko. Peristiwa yang terjadi pada 23 September itu menimpa 43 mahasiswa di kota Ayotzinapa.
Seluruh korban berjenis kelamin pria dan sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi pelatihan guru.
Diketahui, perguruan tinggi ini memiliki sejarah aktivisme sayap kiri dan mahasiswanya aktif mengikuti aksi protes.
Ketika penculikan terjadi, para korban tengah melakukan perjalanan ke wilayah sekitar Iguala untuk melakukan protes atas proses rekrutmen guru yang dipandang diskriminatif. Mereka juga berniat untuk menggalang dana guna membiayai perjalanan mereka ke Mexico City.
Kemudian mereka akan ikut serta dalam peringatan pembantaian Tlatelolco tahun 1968. Dalam peristiwa itu, sebagian besar pelajar dibunuh oleh pasukan keamanan yang ada. (diolah dari berbagai sumber/Litbang MPI/Ajeng Wirachmi)
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.