Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tulisan Terakhir Fatmawati untuk Bung Karno: Tjintamu Menjiwai Rakyat

Tim Okezone , Jurnalis-Kamis, 02 Maret 2023 |06:30 WIB
Tulisan Terakhir Fatmawati untuk Bung Karno: Tjintamu Menjiwai Rakyat
Bung Karno (Foto: Dok Istimewa)
A
A
A

Jika penjaga sedang baik, keluarga boleh ke Wisma Yaso. Tapi kalau sedang tidak baik, mobil ditahan di gerbang. Istri Bung Karno, Hartini sering harus berjalan kaki menenteng rantang makanan melintasi halaman yang sangat luas.

Bung Karno sempat menulis surat ke Presiden Soeharto tanggal 3 November 1968 untuk meminta kelonggaran agar keluarganya bisa mengunjungi. Ia juga meminta agar Ny Sugio yang selama ini mengurusi rumah Wisma Yaso, dizinkan membantu lagi.

Pembantu rumah tangganya tidak diizinkan masuk ke Wisma Yaso, sehingga untuk urusan dapur, Bung Karno harus mengurusnya sendiri.

Ketika akhirnya ia mengembuskan napas terakhirnya. Di antara sayup-sayup suara seorang Ibu yang membacakan surat Yasin dekat jenazah Bung Karno, terdengar Ibu Wardoyo kakak kandung Soekarno terus meratap. “Karno, kowe kok sengsoro men."

Pemerintah memutuskan jenazah Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso. Fatmawati marah dan kecewa dengan campur tangan Pemerintah. “Tidak, tidak ada cerito. Ini rumahnyo." Batin Fatma terguncang. Ia amat terpukul dan tercampak ke sudut yang paling sunyi. Air matanya menetes.

Fatma masih mencintai Soekarno. Ia berharap lelaki itu hanya mencintai dirinya. Semua ini tercermin dari sikapnya yang memohon agar Bung Karno dapat disemayamkan di rumahnya di Jalan Sriwijaya Kebayoran Baru. Namun, Pemerintah menolak permintaan itu.

Fatma teguh pendiriannya karena tidak akan datang ke Wisma Yaso – rumah Ratna Sari Dewi – hanya bisa mengirim karangan bunga. Sebuah tulisan tangan Fatma berbunyi “Tjintamu menjiwai rakyat. Tjinta Fat".

Ketika Bung Karno akan dimakamkan terjadi perundingan antara Hoegeng, Kepala Polisi RI yang bertindak sebagai wakil keluarga Bung Karno dengan Alamsyah Prawiranegara dan Tjokropranolo yang menjadi asisten pribadi Soeharto.

Sejak awal Bung Karno menginginkan dimakamkan di Bogor. Namun, Soeharto memutuskan untuk memakamkan di Blitar, dengan alasan dekat dengan ibunda Soekarno.

Siang harinya, jenazah Bung Karno dibawa ke Blitar lewat Malang dengan menggunakan pesawat Hercules dari Halim Perdana Kusuma. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat ke Blitar, menembus rakyat yang memenuhi sepanjang perjalanan sampai makam.

(Fakhrizal Fakhri )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement