BLITAR - Sjahrir begitu mencintai Indonesia, yakni negara bangsa yang tidak pernah berhenti diperjuangkannya. Andilnya, sama besarnya dengan tokoh-tokoh lainnya seperti Soekarno atau Bung Karno, Bung Hatta, maupun Tan Malaka.
Sehingga, ketika kolonial Belanda memutuskan membuangnya ke Boven Digul, yakni tempat pengasingan yang paling ditakuti para aktivis pergerakan Indonesia, Sjahrir menerima itu dengan kepala tegak.
BACA JUGA:
Di dalam penjara Cipinang 9 Desember 1934 ia ungkapkan sikapnya dalam selembar surat. Bahwa kepentingan bangsa dan negara adalah di atas segala-galanya. Ikatannya dengan bangsa memutus segala susah yang dialaminya.
"Berakhirlah sekarang keragu-raguan dan rasa susah yang kualami selama dua tahun terakhir ini, dan sekarang aku tidak mau dan tidak boleh memikirkannya lagi. Seolah-olah aku diingatkan kepada bangsaku, tatkala kuterima beslit tentang pembuangan itu; diingatkan pada segala sesuatu yang mengikat aku pada nasib dan penderitaan bangsa yang berjuta-juta ini.
BACA JUGA:
Bukankah kesedihan pribadi kita akhirnya hanya sebagian kecil saja dari penderitaan yang besar, yang umum itu? Bukankah justru penderitaan itu merupakan ikatan kita yang semesra-mesranya dan sekuat-kuatnya?
Justru sekarang, pada saat aku barangkali harus berpisah untuk selama-lamanya dengan yang paling kucintai dan yang paling indah bagiku di dunia ini, justru sekarang inilah aku merasa lebih terikat pada bangsaku, aku semakin mencintainya lebih daripada yang sudah-sudah", demikian dikutip dari buku Sutan Sjahrir Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan (2010).