Serangan Belanda meluas hingga wilayah repuvlik di Sumatera, dan Aceh. Serangan diawali dengan pesawat Belanda yang terbang rendah sambil menyebarkan pamflet.
Isi Pamflet itu bentuk propaganda ahwa pemerintah republik menghalangi kerjasama dan mengorbankan rakyat. Kehadiran pesawat Belanda itu juga mengagetkan warga Aceh.
Tak tinggal diam, bersama elemen-elemen perjuangan, TRI membentuk pos-pos pertahanan di pesisir. Kondisi puasa tak menyurutkan semangat juang anak bangsa dalam melawan penjajah. Bahkan, Belanda tak menyangka karena mengira perlawanan republik akan melemah ketika bulan puasa.
“Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan,” cetus Residen Aceh dalam ‘Kronik Revolusi Indonesia Jilid III (1947)’ oleh Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo dan Ediati Kamil.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.