Tapi, rumah Denmas Mendung tertutup. Saat diketuk si empunya tak juga keluar. Penasaran, Ida Ayu mengintip di lubang kunci. Ternyata tuan rumah ada di dalam. Setengah berteriak Ida Ayu mengancam mendobrak rumah jika si empunya rumah tak keluar. Akhirnya pintu rumah dibuka. Alangkah terkejutnya mereka berdua mengetahui bahwa yang menyamar Denmas Mendung adalah RM Soemosewojo yang tak lain adik sepupu Soekeni.
Soemosewojo adalah orang yang diutus Soekeni untuk melamar Ida Ayu di Buleleng, Bali. Mereka pun berpelukan saling melepas kangen. Tak lama setelah pertemuan mengharukan itu, Soekeni, Ida Ayu, serta dua anaknya diajak sowan ke Ndalem Pojok di Wates, Kediri. Mereka naik kereta api hingga ke Wates dilanjutkan naik dokar ke Dusun Krapak, Desa Wates, Kediri.
Keluarga Soekeni disambut antusias RM Panji Soemosewojo yang merupakan ayah kandung RM Soemosewojo. Dalam pertemuan itu, Eyang Panji, sapaan RM Panji Soemosewojo, menyarankan agar Soekeni menitipkan Koesno yang kelak diganti namanya menjadi Soekarno di Ndalem Pojok.
Apalagi, Koesno baru sembuh dan membutuhkan pemulihan kondisi tubuh. Lingkungan dan udara di Wates cukup bersih karena berada di kaki Gunung Kelud sangat baik untuk Koesno.
Soemosewojo, ayah angkat Bung Karno, begitu setia menemani. Bahkan saat Bung Karno ditangkap dan diadili sampai Bung Karno melakukan pembelaan yang terkenal 'Indonesia Menggugat', Soemosewojo ikut hadir di persidangan. Sebelum Bung Karno dibuang ke Ende, Soemosewojo meninggal dunia.
Kembali ke Ndalem Pojok, Suratmi setuju dijadikan cagar budaya seperti yang diusulkan banyak orang. Sebab, Ndalem Pojok terkait perjalanan sejarah Indonesia dan para tokohnya. Termasuk kiprah Bung Karno dalam memproklamirkan Republik Indonesia.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.