Sementara itu, Aam melaporkan bahwa kejadian bencana karhutla sejak awal tahun hingga September 2023 jumlahnya lebih sering jika dibandingan dengan kejadian bencana tanah longsor.
“Kita lihat jadi sejak awal tahun sampai 26 September, kita sudah hampir tembus 3.000 kejadian bencana,” tuturnya.
“Nah, yang mungkin membedakan antara proporsi statistik dari kejadian bencana tahun ini dan tahun lalu, kalau tahun lalu banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor itu mendominasi 3 kejadian dengan frekuensi yang paling tinggi, tapi sekarang karhutla sudah lebih sering terjadi dibandingkan dengan tanah longsor,” katanya.
“Jadi ada hidrometeorologi kering khususnya karhutla ini sudah lebih dominan dari salah satu kejadian bencana hidrometeorologi basah, artinya memang perbandingan kondisi iklim dan cuaca kita mulai berimbang antara musim hujan dan panas,” pungkas Aam.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.