JAKARTA-Israel adalah sebuah negara yang berada di kawasan Asia Barat. Penduduk Israel mayoritas adalah orang Yahudi. Banyak sekali muncul keliruan di masyarakat dengan menganggap setiap orang Yahudi pasti sebagai Zionis dan banyak yang menilai semua bangsa Yahudi sudah tentu pro zionis Israel.
Padahal bangsa Yahudi sebagai suatu kelompok memiliki keyakinan dan cara pandang politik yang beragam. Tidak semua orang Yahudi pro zionis Israel tetapi ada juga yang menentang zionisme karena alasan keagamaan, politik, dan juga etis.
Konflik antara Israel dan Palestina sering sekali melibatkan Zionisme. Pada tahun 1948 kebijakan zionisme yang mendukung berdirinya negara Israel menjadi pemicu perdebatan dan konflik antara Israel dengan Palestina.
Dilansir beragam sumber, Jumat (20/10/2023), zionisme adalah suatu gerakan yang menjalankan aktifitas-aktifitas bersifat agama,politik,rasial,kolonial, dan universal. Gerakan zionisme sudah ada sejak bangsa Yahudi mengalami kekejaman dari penguasa yang berkuasa di Palestina. Tujuan dari gerakan zionisme ini adalah untuk memprovokasi orang-orang Yahudi untuk bertindak anarkis.
Gerakan zionisme yang dikenal sekarang dicetus oleh seorang tokoh jurnalis dari Austria yang bernama Theodore Herzl yang kemudian dikenal dengan sebutan “Bapak Zionisme“.
Sedangkan, orang yang mendorong gerakan zionisme adalah seorang Yahudi yang bernama Semha Beinkr yang mengkampanyekan gerakan zionisme hingga terbentuknya organisasi Perkumpulan Pecinta Zion yang memiliki tujuan membangun sebuah perkampungan di Palestina dan memindahkan orang Yahudi ke kampung tersebut.
Sejak terbentuknya gerakan Zionisme pada tahun 1897 M. Gerakan ini memulai upayanya untuk mencapai tujuan awalnya yaitu memindahkan orang Yahudi ke Palestina dan membentuk negara di dalamnya. Oleh karena itu demi tercapainya tujuan utama dari gerakan zionisme, pemimpin zionis terpecah menjadi 2 kelompok.