Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

PDIP Sedang Sedih, Luka Hati yang Perih

Muhammad Refi Sandi , Jurnalis-Minggu, 29 Oktober 2023 |12:12 WIB
PDIP Sedang Sedih, Luka Hati yang Perih
Prabowo-Gibran daftar ke KPU RI sebagai Bacapres-Bacawapres (Foto: MPI)
A
A
A

 

JAKARTA - Sekertaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengungkapkan partainya sedang sedih dan luka hati, terkait proses pencalonan Bacawapres dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) Gibran Rakabuming Raka yang merupakan kader PDIP yang masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

"PDI Perjuangan saat ini dalam suasana sedih, luka hati yang perih, dan berpasrah pada Tuhan dan Rakyat Indonesia atas apa yang terjadi saat ini," ucap Hasto dalam keterangannya, Minggu (29/10/2023).

“Ketika DPP Partai bertemu dengan jajaran anak ranting dan ranting sebagai struktur Partai paling bawah, banyak yang tidak percaya bahwa ini bisa terjadi. Kami begitu mencintai dan memberikan privilege yang begitu besar kepada Presiden Jokowi dan keluarga, namun kami ditinggalkan karena masih ada permintaan lain yang berpotensi melanggar pranatan kebaikan dan Konstitusi," tambahnya.

Hasto menyebut jajaran PDI Perjuangan hanya berdoa. Kendati demikian kenyataan benar terjadi KIM dengan Bacapres Prabowo Subianto menggandeng Bacawapres Gibran.

"Seluruh simpatisan, anggota dan kader Partai sepertinya belum selesai rasa lelahnya setelah berturut-turut bekerja dari 5 Pilkada dan 2 Pilpres. Itu wujud rasa sayang kami. Pada awalnya kami memilih diam," ujarnya.

Hasto mengatakan apa yang disampaikan Butet Kartaredjasa, Goenawan Muhammad, Eep Syaifullah, Hamid Awaludin, Airlangga Pribadi dll beserta para ahli hukum tata negara, tokoh pro demokrasi dan gerakan civil society, akhirnya kami berani mengungkapkan perasaan kami.

Hasto menegaskan PDI Perjuangan percaya bahwa Indonesia ini negeri dimana rakyatnya bertaqwa kepada Tuhan.

“Indonesia negeri spiritual. Di sini moralitas, nilai kebenaran, kesetiaan sangat dikedepankan. Apa yang terjadi dengan seluruh mata rantai pencalonan Mas Gibran, sebenarnya adalah political disobidience terhadap konstitusi dan rakyat Indonesia. Kesemuanya dipadukan dengan rekayasa hukum di MK. Saya sendiri menerima pengakuan dari beberapa ketua umum partai politik yang merasa kartu truf-nya dipegang. Ada yang mengatakan life time saya hanya harian; lalu ada yang mengatakan kerasnya tekanan kekuasaan," ucap Hasto.

Lebih lanjut, Hasto berharap kondisi awan gelap demokrasi segera berlalu. Ia menggarisbawahi siapa yang meninggalkan demi ambisi kekuasaan.

"Semoga awan gelap demokrasi ini segera berlalu, dan rakyat Indonesia sudah paham, siapa meninggalkan siapa demi ambisi kekuasaan itu," tuturnya.

(Angkasa Yudhistira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement