Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Patih Djojodigdo Pengikut Pangeran Diponegoro yang Sakti Mandraguna, Bisa Hidup Kembali Usai Jasad Menyentuh Tanah

Qur'anul Hidayat , Jurnalis-Sabtu, 11 November 2023 |07:02 WIB
Kisah Patih Djojodigdo Pengikut Pangeran Diponegoro yang Sakti Mandraguna, Bisa Hidup Kembali Usai Jasad Menyentuh Tanah
Makam Djojodigdo. (Foto: MPI)
A
A
A

PATIH DJOJODIGDO merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro. Dia juga memiliki keturuan darah biru atau trah ningrat dari Kerajaan Mataram karena merupakan putra Adipati Kulon Progo. Kesaktiannya teruji ketika terjadi peperangan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro.

Dilansir beragam sumber, sebagai pengikut Pangeran Diponegoro, Djojodigdo ikut berjuang melawan penjajah Belanda. Bahkan dia ikut perang gerilya meskipun saat itu Pangeran Diponegoro telah ditangkap dan diasingkan.

Djojodigdo menjadi orang yang paling ditakuti Belanda karena kesaktian Aji Pancasonanya yang dia miliki. Dia dapat beberapa kali hidup kembali meskipun sudah dieksekusi oleh para tentara Belanda.

BACA JUGA:

Kala Cinta Pangeran Diponegoro dengan Gadis Manado Pupus, Lamaran Ditolak 

Begitu jasadnya dibuang, dia dapat hidup kembali tanpa sepengetahuan dari tentara Belanda. Namun pada saat itu wilayah Yogyakarta banyak dijaga oleh para tentara Belanda maka Djojodigdo memilih berperang secara gerilya dan menuju ke arah timur beserta para pengikutnya.

Hingga akhirnya sampailah Djojodigdo beserta pengikutnya di wilayah Blitar bagian selatan.

Di kota ini tanpa sepengetahuan penguasa Kota Blitar, Djodigdo beserta pasukannya melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda sehingga Belanda merasa takut terhadap kesaktian Dojodigdo.

Akhirnya Belanda melepaskan pengawasan terhadap Kadipaten Blitar. Dengan adanya hal tersebut membuat Adipati Blitar merasa heran, siapa yang membuat Belanda melepaskan pengawasan terhadap daerahnya tersebut.

 BACA JUGA:

Kemudian Adipati Blitar mengirim intelijen untuk mencari tahu dan pada akhirnya utusan telik sandi tersebut menemukan Djojodigdo di sebuah hutan yang masuk di wilayah Blitar Selatan.

Atas perintah Adipati Blitar, utusan telik sandi mengundang Djojodigdo untuk datang ke pendopo namun permintaan utusan Adipati Blitar ini ditolak dengan halus.

Alasannya adalah pada waktu itu Djojodigdo masih sibuk melatih pasukannya untuk melawan tentara Belanda. Karena penolakan halus dari Djojodigdo ini maka utusan telik sandi langsung pulang dan melapor ke Adipati Blitar.

Dua tahun kemudian Adipati Blitar kembali mengirim utusan namun saat itu patih di Kadipaten Blitar mangkat atau meninggal dunia dan harus segera dicarikan pengganti.

Maksud adipati mengirimkan utusannya yang kedua kalinya ini adalah agar Djojodigdo bersedia menjadi patih di Kadipaten Blitar. Dikarenakan banyaknya tentara Belanda yang meninggalkan daerah Blitar karena serangan dari pasukannya maka Djojodigdo bersedia menjadi patih di Kadipaten Blitar.

Sebagai keturunan darah biru atau trah ningrat yang pernah tinggal di kraton, ketika Djojodigdo diangkat menjadi patih sudah tidak asing lagi dengan sistem pemerintahan.

Maka sang patih pun mampu mengambil kebijakan yang sangat baik. Hal inilah yang membuat salut Sang Adipati Blitar sehingga sang adipati memberinya hadiah sebidang tanah yang sekarang berada di Jalan Melati Kota Blitar.

Dari pemberian tanah tersebut Djojodigdo akhirnya membangun rumah besar beserta keluarganya yang diberi nama Pesanggrahan Djojodigdo. Rumah yang dibangun oleh Djojodigdo ini hingga saat ini masih berdiri kokoh.

Sebagai manusia biasa meskipun mempunyai Aji Pancasona, Djojodigdo akhirnya wafat pada tahun 1905, di usia 100 tahun lebih. Dengan Ajian Pancasona ini seseorang tersebut akan bisa hidup kekal abadi hingga akhir kiamat nanti.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement