Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kampanye Prabowo dan Konektivitas Budaya Dalam Landscape Marketing di Indonesia

Opini , Jurnalis-Selasa, 05 Maret 2024 |19:28 WIB
Kampanye Prabowo dan Konektivitas Budaya Dalam Landscape Marketing di Indonesia
Kampanye Prabowo dan Konektivitas Budaya dalam Landscape Marketing di Indonesia (Foto: Ilustrasi/ist)
A
A
A

Inti dari budaya Indonesia adalah prinsip gotong royong, yang menekankan kerjasama komunal dan saling mendukung. Etos komunal ini meresap ke seluruh aspek masyarakat, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumen. Perusahaan yang berupaya mencapai kesuksesan di Indonesia harus memahami pentingnya membina hubungan dan menumbuhkan kepercayaan dengan dan didalam komunitas lokal.

Dinamika Kekuasaan: Menavigasi Hierarki

Penghormatan terhadap otoritas dan struktur hierarki sudah tertanam kuat dalam masyarakat Indonesia. Dalam lingkungan bisnis, keputusan sering kali berasal dari tokoh senior atau kepala bagian, dan bawahan diharapkan untuk mematuhi arahan mereka.

Bagi perusahaan yang beroperasi di Indonesia, mengakui dan menghormati hierarki ini sangat penting untuk membangun kredibilitas dan hubungan baik. Misalnya, perusahaan barang konsumen sering kali berkolaborasi dengan tokoh masyarakat berpengaruh atau tetua setempat untuk mendukung produk mereka. Dengan menyelaraskan diri dengan tokoh-tokoh terkemuka, dunia usaha dapat memanfaatkan dinamika kekuatan yang ada untuk meningkatkan citra brand dan kredibilitas mereka di mata konsumen.

Individualisme Vs. Kolektivisme: Membina Ikatan Komunitas

Meskipun pengaruh individualisme semakin meningkat, khususnya di pusat-pusat perkotaan seperti Jakarta, Indonesia pada dasarnya tetap merupakan masyarakat kolektivis, dengan penekanan kuat pada hubungan kekeluargaan dan komunal. Pola pikir kolektivis ini secara signifikan membentuk keputusan konsumen, dimana masyarakat sering kali memprioritaskan pembelian yang bermanfaat bagi jaringan sosial mereka yang lebih luas.

Di sektor barang konsumsi, merek memanfaatkan pola pikir komunal ini dengan menekankan dampak sosial dari produk mereka. Misalnya, perusahaan dapat meluncurkan inisiatif yang menyumbangkan sebagian penjualannya untuk proyek pengembangan masyarakat, atau mereka dapat berkolaborasi dengan pengrajin lokal untuk menciptakan produk yang relevan dengan budaya. Dengan menyelaraskan penawaran mereka dengan nilai-nilai komunal, dunia usaha dapat menjalin hubungan yang lebih kuat dengan konsumen Indonesia.

 BACA JUGA:

Dinamika Maskulinitas Dan Gender: Beradaptasi Terhadap Perubahan Norma

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement