GAZA – Organisasi kemanusiaan di Gaza, Médecins Sans Frontières (MSF) mengatakan pada Senin (27/5/2024) bahwa salah satu fasilitasnya telah menerima sedikitnya 28 orang tewas setelah serangan tersebut, termasuk wanita dan anak-anak.
Dalam sebuah pernyataan, organisasi tersebut mengatakan bahwa mereka telah merawat 180 warga Palestina yang terluka, dengan sebagian besar menderita luka serius akibat pecahan peluru, patah tulang, luka traumatis, dan luka bakar.
MSF menolak klaim Israel bahwa serangan tersebut tepat sasaran, dan mengatakan bahwa serangan terhadap kamp berpenduduk di zona amandi Rafah menunjukkan ketidakpedulian Israel terhadap kehidupan warga sipil di Gaza.
Dalam sebuah pernyataan pada Senin (27/5/2024) malam, Amerika Serikat (AS) menyebut serangan itu memilukan, namun bersikeras bahwa Israel mempunyai hak untuk membela diri.
“Israel mempunyai hak untuk menyerang Hamas, dan kami memahami serangan ini menewaskan dua teroris senior Hamas yang bertanggung jawab atas serangan terhadap warga sipil Israel,” kata juru bicara keamanan nasional Gedung Putih.
Namun mereka mengakui bahwa Israel harus mengambil segala tindakan pencegahan untuk melindungi warga sipil. Termasuk menjawab pertanyaan bagaimana serangan presisi yang menggunakan amunisi khusus dengan hulu ledak yang dikurangi dapat mengakibatkan badai api yang menewaskan puluhan orang dan melukai banyak orang?
Para pejabat Israel menghabiskan sebagian besar waktunya pada Senin (27/5/2024) untuk mencari tahu apa yang salah di Rafah.
Menyusul keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) pada pekan lalu, yang memerintahkan Israel untuk menghentikan operasi apa pun di wilayah Rafah yang mungkin menimbulkan kerugian lebih lanjut pada penduduk Palestina, Israel tahu bahwa perhatian dunia sedang tertuju pada hal tersebut. Mereka berada di bawah tekanan besar untuk menjelaskan tindakan mereka.