Namun, setelah Perang Enam Hari 1967, pandangan terhadap Israel mulai berubah. Walaupun pembelaan terhadap negara Israel yang menghadapi serangan dari negara-negara Arab diterima, aneksasi wilayah oleh Israel dan pendudukan Palestina semakin dipandang sebagai bentuk kolonialisasi. Sikap ini semakin diperburuk oleh hubungan antara kelompok Palestina dan IRA, yang saling bertukar senjata dan pelatihan. Sentimen anti-Israel mulai berkembang di Irlandia, dan Israel dianggap kurang baik di kalangan beberapa kelompok sosialis radikal.
Meskipun demikian, komunitas Yahudi di Irlandia hidup relatif aman dan tidak banyak mendapat gangguan. Namun, ada kurangnya kepekaan terhadap antisemitisme, yang membuat orang Yahudi hanya "ditoleransi" saja, bukan diterima sepenuhnya. Seringkali, tindakan atau pernyataan para politisi di Irlandia lebih fokus pada mengenang penderitaan Yahudi masa lalu daripada mengatasi masalah antisemitisme yang terjadi saat ini.
Menurut Sears, lagu "Palestine" oleh penyanyi Christy Moore dan kartun antisemitik yang diterbitkan oleh Irish Times mencerminkan semakin meluasnya sikap yang cenderung menyudutkan Yahudi dengan pandangan negatif yang berakar pada stereotip lama. Bahkan Presiden Irlandia, Michael D. Higgins, juga mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait Israel dan Gaza, yang memperburuk ketegangan terkait identitas Yahudi di Irlandia. Sehingga, meskipun Irlandia tidak dikenal sebagai negara yang secara aktif menindas komunitas Yahudi, sentiment anti-Israel yang berkembang belakangan ini sering kali berkembang menjadi antisemitisme yang lebih luas.
(Rahman Asmardika)