Erlich juga mengatakan dia mendengar kekhawatiran dari komunitas Yahudi dan Israel di Irlandia. "Kami mengarahkan kekhawatiran tersebut kepada pemerintah Irlandia, pemerintah yang perlu memastikan bahwa mereka aman, bahwa ada masa depan bagi komunitas Yahudi di Irlandia," jelasnya. "Jaminan ini perlu dibuat,” lanjutnya.
Sementara itu, Harris menyatakan tidak menyesali keputusannya dan menegaskan bahwa Irlandia tidak anti-Israel, tetapi mendukung hak asasi manusia dan hukum internasional.
Pada Selasa (17/12/2024), Presiden Irlandia Michael D. Higgins juga memberikan tanggapan keras terhadap klaim Israel yang menyebut Irlandia "antisemit.”
"Saya menganggapnya sebagai hal yang sangat serius untuk mencap suatu bangsa hanya karena mereka tidak setuju dengan Perdana Menteri Netanyahu,” ujar Presiden Higgins di Áras an Uachtaráin, Dublin, saat upacara penerimaan surat kepercayaan untuk Duta Besar Negara Palestina Jilan Abdaljamid dan Duta Besar Italia Nicola Faganello yang dikutip dari Irish Central.
Higgins mengatakan Netanyahu telah melanggar banyak hukum internasional dan telah melanggar kedaulatan tiga negara tetangganya. "Saya rasa, menyarankan bahwa seseorang yang mengkritik Perdana Menteri Netanyahu dianggap antisemit adalah fitnah dan pencemaran nama baik yang sangat parah,” tanggapnya.
Seorang pendiri Holocaust Awareness Ireland, Oliver Sears, dalam Fathom Journal menjelaskan pengalamannya tinggal di Irlandia selama 40 tahun sebagai seorang Yahudi. Sears menjelaskan bahwa Irlandia memiliki hubungan yang agak unik dengan komunitas Yahudi.
Berbeda dengan banyak negara Eropa, yang sering mengalami konflik dan kekerasan terhadap Yahudi, hubungan Irlandia dengan Yahudi relatif lebih tenang dalam sejarahnya. Sejak gelombang pertama imigrasi Yahudi dari Lituania pada abad ke-19, komunitas Yahudi di Irlandia cenderung lebih tersembunyi.
Kekerasan terhadap Yahudi hanya terjadi sekali, yaitu dalam peristiwa pogrom di Limerick pada 1904. Meskipun menakutkan bagi keluarga-keluarga Yahudi yang terpaksa melarikan diri, kekerasan yang terjadi jauh lebih ringan dibandingkan dengan pogrom di Eropa Timur.
Selama Perang Dunia II, Irlandia, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Éamon de Valera, melindungi hak-hak warga Yahudi melalui konstitusi 1937. Namun, negara ini juga tidak memberikan banyak bantuan kepada orang-orang Yahudi yang melarikan diri dari Jerman Nazi, meskipun beberapa diizinkan masuk. Ketika Zionisme berkembang pada 1930-an, Irlandia mendukung hak Yahudi untuk menentukan nasib sendiri, mirip dengan perjuangan kemerdekaan Irlandia melawan Inggris. Beberapa tokoh Zionis seperti Yitzhak Shamir dan Menachem Begin menerima dukungan dari Irish Republican Army (IRA) dalam perjuangan mereka.