Ia juga menyoroti banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di wilayah Batang Toru, Tapanuli Selatan. Berdasarkan kajian peta satelit Kementerian Lingkungan Hidup, bagian hulu wilayah tersebut seharusnya merupakan hutan. Namun kini beralih fungsi menjadi lahan pertanian.
“Ini fungsinya secara tata ruang justru kepada pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah. Padahal, tempatnya di puncak ya, sehingga begitu terjadi bencana ya seperti ini,” katanya.
Pihaknya juga melihat adanya indikasi pembukaan lahan sawit yang membuat pohon di hutan wilayah tersebut terpaksa ditebangi. Kayu-kayu bekas penebangan hutan terpaksa dipinggirkan atau tidak bisa dibakar lantaran adanya kebijakan zero burning.
“Kemudian, ada indikasi pembukaan-pembukaan kebun sawit yang menyisakan log-log (kayu gelondongan), karena memang kan zero burning sehingga kayu itu tidak dibakar tapi dipinggirkan. Nah, ternyata banjirnya yang cukup besar mendorong itu menjadi bencana berlipat-lipat,” tuturnya.
(Arief Setyadi )