Meski demikian, Ridlwan mengakui tantangan masih tersisa, terutama pada komponen strategis berteknologi tinggi seperti mesin jet dan sensor elektronik.
“Tantangan kita tinggal di komponen kunci seperti mesin jet atau sensor elektronik canggih. Tapi sekarang kebijakannya jelas, kalau pun harus impor, wajib ada kerja sama dengan industri lokal untuk membangun pabrik suku cadang di dalam negeri,” jelasnya.
Menurutnya, orientasi pengadaan alutsista kini tidak lagi sekadar membeli produk, melainkan menguasai rantai pasok pertahanan secara menyeluruh.
“Targetnya bukan cuma beli barangnya, tapi kuasai rantai pasoknya. Kita bangun ekosistem supaya pertahanan kita tidak bisa ‘dimatikan’ lewat sanksi suku cadang negara lain,” pungkasnya.
(Awaludin)