JAKARTA – China dilaporkan berupaya memindahkan penduduk nomaden Tibet di wilayah Amdo, Qinghai, dan Sichuan. Langkah ini diklaim sebagai bagian dari program modernisasi dan perlindungan ekologis, namun juga menimbulkan perhatian terkait dampaknya terhadap pola hidup tradisional masyarakat Tibet.
Sejak awal 2000-an, China mempercepat "Proyek Pemukiman Nomaden" di bawah kampanye Pembukaan Barat. Di Amdo, Qinghai, dan Sichuan, ribuan nomaden Tibet dipindahkan ke kompleks perumahan baru.
Dilansir European Times, Rabu, (28/1/2026), Beijing menyebut tiga alasan utama pemindahan tersebut: perlindungan lingkungan untuk mengurangi tekanan penggembalaan pada padang rumput, modernisasi ekonomi dengan mengintegrasikan nomaden ke dalam pasar, serta stabilitas sosial melalui program "Pedesaan Sosialis Baru."
Pada 2009, Qinghai merencanakan pembangunan lebih dari 25 ribu rumah dengan investasi sekitar 1,2 miliar RMB, mencakup 31 kabupaten di enam prefektur.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa kebijakan ini berdampak pada mata pencaharian tradisional, terutama penggembalaan ternak, serta menimbulkan tantangan bagi keluarga yang beradaptasi dengan kehidupan perkotaan.
Selain itu, beberapa pengamat menilai adanya perubahan budaya, karena tradisi nomaden seperti migrasi musiman dan penggembalaan komunal berkurang ketika masyarakat tinggal di pemukiman permanen.
Pergeseran dari padang rumput ke perumahan teratur juga disebut menciptakan keterasingan, khususnya bagi generasi tua.
Sejumlah sarjana berpendapat proyek ini lebih terkait dengan standardisasi sosial dibandingkan aspek ekologi. Namun, ada juga keluarga yang mencoba memadukan tradisi dengan mata pencaharian baru, seperti menjual produk susu, mengajarkan budaya Tibet, atau terlibat dalam ekowisata.
Buddhisme Tibet, yang menekankan ketahanan dan welas asih, dipandang sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi transisi ini.
Program pemukiman dianggap sebagai bagian dari pendekatan China terhadap pembangunan wilayah perbatasan. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana identitas budaya dapat tetap bertahan di tengah perubahan lanskap.
(Rahman Asmardika)