Kahar tewas akibat tembakan pada pagi 3 Februari 1965, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Peristiwa itu menandai berakhirnya perjalanan panjang Kahar, yang pada awalnya dikenal sebagai sosok patriotik.
Kahar awalnya adalah seorang nasionalis, bahkan pernah menjadi pengawal Presiden Soekarno. Dalam rapat raksasa di Ikada pada 19 September 1945, Kahar turut mengawal kepala negara.
Namun rasa kecewa terhadap pemerintah mendorongnya mengambil jalan berbeda. Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong menyebut, kekecewaan itu muncul ketika Kolonel Alex Kawilarang menolak Kesatoean Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) bentukan Kahar untuk masuk ke Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).
Penolakan tersebut membuat La Domeng merasa harga dirinya sebagai orang Bugis-Makassar terlukai. Pada 20 Agustus 1952, ia bersama KGSS memilih bergabung dengan gerakan DI/TII Kartosoewirjo.
Walau riwayat hidupnya telah berakhir, di sebagian masyarakat Sulawesi, khususnya Luwu, masih ada yang meyakini Kahar Muzakkar belum benar-benar meninggal dunia.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.